Walau Harga BBM Turun, Tapi Harga Onderdil Tidak Turun
Harga sparepart sekarang ini masih tinggi. Jadi dalam perhitungannya, tarif angkutan juga dihitung biaya sparepart mobil
Laporan Reporter Magang Tribun Jogja, Arifina Budi A
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Perintah Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X agar angkutan umum menurunkan tarifnya menjadi bahasan baru bagi Organda. Ketua Organda Sleman Juriyanto ketika ditemui oleh Tribun Jogja, Selasa (20/1/2015) mengatakan bahwa ada banyak pertimbangan dalam menetapkan tarif angkutan umum.
Juriyanto menjelaskan bahwa penetapan tarif angkutan umum tidak hanya mempertimbangkan harga BBM tapi juga melibatkan harga-harga sparepart kendaraan.
"Harga sparepart sekarang ini masih tinggi. Jadi dalam perhitungannya, tarif angkutan juga dihitung biaya sparepart mobil," ujar Juriyanto ketika ditemui di Terminal Condong Catur, Sleman.
Masalah harga sparepart yang tinggi ini juga dikeluhkan oleh salah satu sopir bus jurusan Yogya-Kaliurang, Ngadilan (43). Dirinya mengaku telah memiliki sendiri bus yang dikendarainya.
Menurutnya, kenaikan harga BBM juga mempengaruhi harga onderdil bus sedangkan jumlah penumpangnya tidak tentu setiap hari.
"Dulu harga onderdil itu satu juta sekarang naik jadi satu juta dua ratus tapi untuk dapat penumpang penuh itu susah, jadi tarifnya pun ya tidak bisa menutupi kebutuhan bahan bakar dan kebutuhan bus," ujar Ngadilan.
Ngadilan juga mengatakan bahwa harga-harga onderdil tersebut tidak terpengaruh harga BBM.
"Walaupun BBM turun harga onderdil belum tentu ikut turun," katanya.
Kemarin Sri Sultan Hamengku Buwono X memperingatkan Organda untuk menurunkan tarif angkutan umun. Sultan pun menegaskan bila tarif angkutan umum tidak turun maka pihaknya akan mencabut SK Penyesuaian tarif angkutan umum yang diturunkan akhir tahun lalu.
(tribunjogja.com/mg2)