Manusia di Era Password dan PIN

Masyarakat modern di perkotaan sudah terbiasa berhadapan dengan angka-angka berupa code, barcode, password dan PIN

Penulis: rap | Editor: Ikrob Didik Irawan

Sadarkah bahwa kehidupan kita saat ini tidak bisa lepas dari code,barcode, password, PIN (personal identification number), dan bagaimana hal ini bisa muncul tanpa kita sadari?

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Masyarakat modern di perkotaan sudah terbiasa berhadapan dengan angka-angka berupa code, barcode, password dan PIN. Kita menyadari bahwa angka-angka tersebut sangat penting, bahkan dengan rela kita harus menghafal dan menyimpan puluhan code, barcode, password, PIN tersebut dan terus selalu mengingatnya untuk berbagai alasan.

Beberapa di antaranya untuk keamanan identitas dalam urusan perbankan, dan yang berhubungan dengan konsumsi teknologi.

Fenomena tersebut merupakan bagian dari gaya hidup masyarakat digital saat ini. Perkawinan manusia dengan teknologi di satu sisi menciptakan kemudahan-kemudahan. Tetapi di sisi lain, juga menciptakan “ancaman” tersendiri. Maka dengan alasan “keamanan” kita harus membekali diri kita dengan berbagai code, barcode, password, PIN dan lainnya.

Pada masyarakat di negara maju dan perkotaan modern hal ini tak lagi bisa diabaikan, hampir disemua kehidupannya dipenuhi oleh ingatan angka-angka code, barcode, password maupun PIN. Mulai dari kunci pintu rumah, kartu periksa dokter, kartu kredit, sampai dengan membuka tampilan telepon genggam.

Bahkan saat ini mulai bermunculan istilah seperti EDC (electronic data capture) yang dipakai kalangan perbankan untuk mengajak masyarakat masuk sistem perbankan. Ada pula berbagai aplikasi komputerisasi telepon genggam seperti NFC (near field communication) yang fokus pada penggantian peran manusia dengan sistem komunikasi smartphone, dan sebagainya.

Sebagai bagian dari masyarakat modern, hal ini juga dialami oleh Gemilang Haifa Khairinissa. Dalam kesehariannya ia berhadapan dengan code, barcode, password maupun PIN. Yang penting bagi Haifa adalah kartu identitas, karena nomor KTP sering digunakan, bahkan tidak bisa lepas.

Yang kedua adalah kartu ATM yang digunakan sebagai kartu debit untuk belanja. “Untuk ATM jelas nomor angka PIN jadi senjata utama yang harus diingat untuk menggunakannya,” kata dara kelahiran Gunungkidul, 14 Agustus 1992 ini.

Haifa mengaku mampu menghafal beberapa password, nomor, barcode, dan pin yang ia gunakan. “Untuk nomor identitas, karena sering digunakan jadi hafal, kemudian nomor pin ATM juga hafal karena penting untuk keberlangsungan hidup hehehe,” tuturnya.

Perempuan yang baru lulus S1 Ilmu Hubungan Internasional UGM ini berujar bahwa untuk password social media biasanya ia bikin dengan materi yang sama, hanya dibolak-balik supaya dapat dihafal dengan mudah, “Apalagi socmed sekarang banyak banget, kalau dibikin bermacam-macam takut lupa, dan kalau akun kita kena hack, bisa bahaya, makanya penting.”

Selain nomor identitas, nomor pin ATM, password social media, Haifa juga menghafal beberapa nomor telepon orang-orang penting di sekitarnya. Menurutnya jika dilihat dari dari sisi sosial bermasyarakat, dampak positif dari kemajuan teknologi ini adalah semuanya menjadi efisien.

"Ngga perlu pergi kemana-mana untuk mengambil uang atau hal-hal lain. Sistem digital gini juga lebih ramah lingkungan!” ujar Wakil Ketua HiLo Green Community Nasional 2014/2015 ini.

Di sisi lain, lanjutnya, jika ada orang yang punya maksud buruk, sistem ini bisa dimanfaatkan untuk kepentingan pribadinya, seperti memasukan nomor kartu kredit orang lain di internet. (tribunjogja.com)

Sumber: Tribun Jogja
Tags
password
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved