Drama Gol Bunuh Diri
KPFSI Sesalkan Sanksi Komdis Untuk PSS
Pasalnya, sanksi tersebut dinilai berlebihan dan justru bisa dikatakan sebagai sanksi yang 'salah sasaran'
Penulis: Susilo Wahid Nugroho | Editor: Hendy Kurniawan
Laporan Reporter Tribun Jogja, Susilo Wahid Nugroho
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Komite Perumus Federasi Sepakbola Indonesia (KPFSI) menyesalkan sanksi yang dibebankan kepada PSS Sleman oleh Komisi Disiplin (Komdis) PSSI. Pasalnya, sanksi tersebut dinilai berlebihan dan justru bisa dikatakan sebagai sanksi yang 'salah sasaran' karena tidak seharusnya dibebankan ke PSS.
Seperti yang diungkapkan oleh Ketua III KPFSI, Ali Wafa yang menyatakan jika sanksi dari Komdis PSSI tersebut dianggap terlalu berlebihan. "Padahal sebenarnya ada oknum yang bermain di belakang peristiwa ini, dialah yang seharusnya diburu lalu diberi sanksi berat," kata Ali, Jumat (21/11/2014)
Diyakini Ali bahwa PSSI sebenarnya mengetahui oknum-oknum yang tak terlibat dan bermain di belakang kasus sepakbola PSS kontra PSIS Semarang tersebut. Namun satu hal disayangkannya, PSSI seperti terkesan menutup mata dan cenderung mencari kambing hitam atas kasus ini.
Selain itu, peristiwa sepakbola gajah yang terjadi kemarin sebenarnya adalah sebuah bentuk korban konspirasi PSSI sendiri. "Dengan demikian, ini menjadi bukti bahwa PSSI gagal dalam mengawal sepak bola nasional kita. Untuk itu perlu dilakukan revolusi untuk membangun sepakbola yang bersih," kata Ali.
Sebelumnya, pihak Komdis telah menjatuhkan sanksi bervariasi kepada PSS. Hukuman terberat dijatuhkan kepada pelatih Hery 'Herkis' Kiswanto dan pemain pencetak gol bunuh diri yaitu Hermawan Putra Jati dan Agus 'Awank' Setyawan yang dilarang beraktivitas dalam sepakbola nasional seumur hidup. (*)