Agustine Ketagihan Menari
Sebuah pertunjukkan bertitel "Paradance #1" sukses ia gelar di Bale Budaya Samirono pada Maret silam
Penulis: Yudha Kristiawan | Editor: Ikrob Didik Irawan
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - MENCINTAI sesuatu bisa jadi berawal dari rasa penasaran, hingga tak menyangka bawah yang dicintai itu sebenarnya sangat dekat dengan dirinya. Setidaknya itulah yang dirasakan dara bernama lengkap Agustine Pandhuniawati Heryani (25).
Ketidakpercayaan diri sempat menghinggapinya tatkala ia ingin serius menekuni seni olah tubuh, yakni tari. Nia panggilan akrab pemilik rambut panjang sepinggang ini, lambat laun menyadari bahwa bakat menari sejatinya sudah dimilikinya sejak kecil.
Bermodal semangat dan mau tekun belajar dari sang maestro tari kreasi asal Yogyakarta, Didik Nini Thowok, Nia pun tak main-main dengan cita-citanya di bidang seni tari. Meskipun diakuinya, awalnya sulit. Pasalnya, ia tak memiliki latar belakang pendidikan formal bidang tari, sementara keinginan belajar menarinya kuat dan tak terbendung.
Alhasil, Nia nekat mencoba mewujudkan impiannya, bisa menari tanpa ada rasa enak dan tidak enak. Ia membebaskan dirinya sendiri dalam sebuah pentas tari yang ia buat dengan beberapa kawan dari komunitas Gamblang Musikal Teater (GMT).
Sebuah pertunjukkan bertitel "Paradance #1" sukses ia gelar di Bale Budaya Samirono pada Maret silam. Ia tak sendiri, beberapa penari muda yang sudah lama menjadi pegiat tari juga digaetnya, antara lain, Ayu Permatasari dan Mila Rosinta dari kampus ISI Yogyakarta. Selain itu, ada Raras dan Putri dari jurusan Tari UNY.
"Ide awalnya bikin paradance adalah menyalurkan ketertarikan pada seni tari. Kenapa aku nggak nari sendiri, bikin pentas sendiri, mengajak penari lain dan bebas menarikan jenis tarian apa saja tanpa dibatasi tema. Akhirnya bareng teman-teman GMT kita buat paradance," ujar Nia saat berkunjung ke kantor Tribun Jogja, belum lama ini.
Nonprofit
Sukses menggelar Paradance #1, tak terasa Nia dan kawan-kawan GMT sudah akan menggelar Paradance #4 pada akhir November mendatang. Pertunjukkan nonprofit tersebut bagi Nia adalah wujud keseriusannya memberi wadah bagi penikmat seni tari dan penari lain seperti dirinya yang ternyata masih banyak butuh panggung eksplorasi karya.
"Pentas ini digelar dua bulan sekali. Besok November sudah keempat. Aku cuma sharing ke beberapa penari, dari situ mereka malah support banget. Ternyata mereka butuh wadah menyalurkan karyanya," ungkap Nia yang enggan disebut penari ini.
Kenapa dinamakan Paradance, Nia menjelaskan, ikhwal nama tersebut dipilih lantaran hanya ingin memudahkan penyebutan atau sapaan ke para penari, paradance diasumsikan sebagai kata panggilan, "hey para penari".
Nia menambahkan, menurutnya, menari bukan hanya ketika pentas saja. Bila sedang stres, Nia bahkan mengakui seperti ketagihan menari. Ia pun sering menari sendiri untuk menghilangkan kejenuhan.
"Aku menemukan pasion saat menari. Bagiku, tari bisa menjadi media kita terhubung dengan sang Pencipta. Secara personal, kontak kita kepada-Nya (Tuhan) jadi lebih mudah," imbuh Nia yang mengaku terinspirasi menari dari tantenya yang juga penari. (tribunjogja.com)