Breaking News:

Warga Kritik Pemkot Lewat Aksi Jogja Asat

Mereka secara bergotong royong membersihkan dinding di Jembatan Kleringan, mengecat ulang, serta membuat graffiti

Penulis: Muhammad Fatoni | Editor: Mona Kriesdinar
TRIBUNJOGJA.COM | MUCHAMMAD FATONI
Sejumlah warga negara asing turut ambil bagian pada aksi simpatik Jogja Asat, di Jembatan Kewek/ Kleringan, Kamis (2/10). Aksi ini digagas oleh Komunitas Warga Berdaya untuk menyuarakan kegelisahan tentang kekeringan air sumur akibat pembangunan hotel dan mall di Kota Yogya. 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Muchammad Fatoni

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Puluhan orang yang tergabung dalam Komunitas Warga Berdaya Yogyakarta, melakukan aksi simpatik di Jembatan Kleringan, Kamis (2/10) sore. Mereka menyuarakan aspirasi dan keprihatinan terkait persoalan kekeringan di sumber air atau sumur, yang diduga akibat pembangunan hotel dan mal.

Mereka secara bergotong royong membersihkan dinding di Jembatan Kleringan, mengecat ulang, serta membuat graffiti. Hal itu dilakukan untuk menyuarakan aspirasi mereka pada Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta serta dinas terkait.

Perwakilan Komunitas Warga Berdaya, Yoshi Fajar Kresno Murti, menuturkan pembangunan hotel dan mal yang belakangan marak, telah melanggar hak warga Yogya. Dalam hal ini yang dimaksudkan adalah ketersediaan air bersih dari sumur-sumur warga.

"Ide awalnya memang dari rasa keprihatinan melihat banyaknya pembangunan hotel dan mal, dan itu berdampak pada keringnya sumur warga, karena itu kami mengambil tagline kegiatan ini yaitu Jogja Asat," jelasnya kepada wartawan.

Ia menambahkan, pihaknya akan memasang poster atau lukisan graffiti berisi aspirasi dan kegelisahan warga Yogyakarta, khususnya terkait air. Yoshi menilai, terlalu banyaknya bangunan hotel dan mal di Kota Yogya juga melanggar atau mengganggu keseimbangan lingkungan.

"Ini baru pertama kalinya sepanjang sejarah, dan sumur-sumur yang kering itu sebagian besar di perkampungan yang dekat dengan hotel atau mal," lanjutnya.

Melalui karya seni semisal mural dan poster tersebut, ia berharap pemerintah setempat bisa lebih peka terhadap harapan mereka. Terlebih, lanjutnya, air merupakan kebutuhan dasar yang sangat dibutuhkan warga masyarakat.

Aksi itupun disebutnya berlangsung secara spontan dan diikuti gabungan warga dari beberapa wilayah di DIY. Target utama dari aksi tersebut adalah Pemkot bisa segera menghentikan perkembangan pembangunan hotel dan mal yang semakin memadati Kota Yogyakarta.

Aksi itupun tak hanya diikuti oleh warga asal Yogyakarta, melainkan juga warga pendatang, bahkan beberapa warga negara asing. Satu di antaranya adalah Jonthon Coulson, yang juga terlihat ikut sibuk membersihkan beberapa sampah dan coretan di dinding Jembatan Kleringan.

"Saya tertarik ikut aksi ini, karena memang aksi ini untuk meminta pemerintah terkait air yang memang sangat penting untuk kita, kegiatan ini sangat menarik," tutur WNA asal New York, Amerika Serikat ini. (ton)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved