Mlethodman Cinta Banget Hip Hop

Di setiap pertunjukannya Mlethodman menggunakan kostum yang tidak biasa dipakai artis rap, sebut saja pakaian padang pasir, hingga seragam siswa SD

Penulis: rap | Editor: Ikrob Didik Irawan

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - DI KANCAH hip hop, nama Mlethodman sudah tidak asing lagi. Selain personelnya terdiri dari orang-orang yang sudah lama eksis di genre ini, penampilan mereka kerap memang sangat memukau, terutama dengan gimmick-gimmick yang menghibur.

Di setiap pertunjukannya Mlethodman menggunakan kostum yang tidak biasa dipakai artis rap, sebut saja pakaian padang pasir, hingga seragam siswa Sekolah Dasar.

Kelompok ini berawal dari Ketiban Spermo yang berdiri di tahun 2003. Saat itu mereka adalah Billma, Dali, Tino, dan Bg. Pada tahun 2008 Dali pindah ke Selandia Baru, maka formasi pun berkurang menjadi tiga orang. Karena hanya beranggotaakan tiga personel, maka kelompok ini mengganti nama menjadi "Trio Gudel".

Sejak 2009 lalu Trio ini mengajak satu temannya untuk bergabung. Karena formasi berubah menjad empat orang, maka nama mereka pun berubah. Belakangan muncullah nama 'Mlethodman' dengan formasi Billma, Tino, Bg, dan Pongki.

Kultur hip hop di Yogyakarta memang berkembang pesat, baik secara kuantitas dan kualitasnya. Bahkan kini banyak bermunculan para pegiat baru yang tidak kalah unik dan keren. Pongki, anggota paling humoris yang belakangan bergabung mengatakan bahwa Mlethod Man memang berbeda dari grup hip hop lainnya.

"Jelas beda bangetlah, kita grup paling yoi se-distrik Jateng DIY-Semarang-PP, kami Mlethodman hip hop wani isin dan raumum mbelinge. Pada intinya kami gak hip hop-hip hop banget sih, tapi kami bisa nge-rap lebih oke dari Mohamad Marzuki! Ha..ha..ha," katanya lalu tertawa.

Dengan nada bercanda, Ponki berkata kalau Mlethodman tidak terpengaruh dengan musik ala Wu Tang Clan dengan alasan susah. Mereka mengaku lebih tertarik banyak belajar ilmu kanuragan dari kelompok Srimulat dari pada musisi-musisi hip hop di luar sana. "Tapi iya, kami cinta banget Hip Hop," tambahnya.

Mereka mengaku menyukai banyak jenis musik, mulai jazz, blues, soul, funk, hingga orkes melayu, namun mereka sadar diri, hingga kemudian belajar nge-rap yang ternyata lebih asik. Bagi para personelnya, Mlethodman adalah sebuah wadah yang dibutuhkan, dan tempat sebagai proyeksi ide-ide ganteng dan pengalaman cantik yang mereka alami.

Lewat lirik, mereka bercerita akan hal-hal yang sederhana. Mlethodman berbicara hal sehari hari dengan contoh-contoh yang ringan, tentunya dengan gaya humor yang khas. Pada lagu berjudul 'Rebutan WC' mereka seperti membongkar tentang sifat dasar manusia.

Pongki menjelaskan kalau se alim-alimnya Anda ketika kebelet buang air besar, akan menjadi galak dan mungkin menjadi tidak alim saat berebut WC di tempat umum.

Sedangkan pada lagu 'Sleding Tekel' yang membuat semua penonton 'Sing a long' di bagian reff, bercerita tentang pacar seseorang yang dipacari oleh sahabatnya yang lain.

Hingga kini Mletdhodman telah eksis di berbagai panggung pertunjukan, baik acara acara hip hop yang digelar komunitas, hingga pentas seni lainnya. Yang perlu dicatat adalah saat masih bernama Trio Gudhel, mereka pernah tampil di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Pada event tersebut mereka tampil bersama rombongan hip hop lainnya dari Yogyakarta untuk acara Poetry Battle 2.

Belum lama ini Mlethodman juga tampil di acara HELLHOUSE BEATCAMP FKY26, Plasa Ngasem, dimana ribuan penonton menyaksikan aksi, dan pola tingkah antik mereka.

Saat ini Mlethodman sudah membuat program kerja dan berbagai agenda ke depan. Mereka sedang menyiapkan materi untuk membuat album, video klip, dan lainnya. "Karena sebenarnya materi album kami sudah siap, tapi apakah Kalian sudah siap? Itu pertanyaannya," pungkas Pongki. (tribunjogja.com)

Sumber: Tribun Jogja
Tags
musik
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved