Gonggo Lilo, Si Biru yang Jadi Klangenan
Penggemar Cucak Biru sementara ini memang kalangan tertentu. Sebab, umumnya mereka yang memelihara burung ini lebih tertarik dengan keindahan bulu
Penulis: Yudha Kristiawan | Editor: Ikrob Didik Irawan
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - BULU-bulu burung ini didominasi warna biru menyala dan hitam pekat, matanya merah, posturnya hampir sama dengan burung Cucak Hijau. Di kalangan pecinta burung dikenal dengan nama Cucak Biru (Asian fairy bluebird).
Di habitat aslinya, burung ini sebagian besar berkembang biak di hutan primer atau hutan lebat dan di hutan hujan. Wilayah Sumatera, India, Srilanka, hingga Filipina bagian selatan adalah daerah populasi terbanyak burung ini.
Saat mencari makan, Cucak Biru selalu berkoloni atau membentuk kelompok kecil dengan pasangan masing-masing. Burung ini biasanya tidak bermigrasi, namun, mereka senang terbang dengan jarak cukup jauh dalam satu wilayah, demi menemukan persediaan buah yang melimpah.
Kerjasama untuk saling melindungi dalam satu kelompok terlihat saat mereka mandi. Secara bergantian mereka menjaga kelompoknya dari ancaman predator yang setiap saat bisa membahayakan.
Saat musim kawin tiba, anggota kelompok akan mencari pasangannya masing-masing. Mereka akan masuk ke hutan lebat untuk kemudian membuat sarang di atas pohon dengan ketinggian puluhan meter, sehingga terlindung dari serangan hewan lain. Beberapa literatur menyebutkan, burung betina lah yang membuat sarang. Sementara burung jantan memberikan makan setelah anak-anaknya menetas.
Soal suara atau kicauan, Cucak Biru atau orang Jawa kerap menyebutnya dengan Gonggo Lilo ini memang kalah moncer dibanding burung pekicau lain, misalnya Cucak Hijau. Namun, beberapa pecinta burung mengklaim irama kicauan burung ini bisa setara dengan Cucak Hijau bila dilatih dengan benar.
"Kalau soal kicauan, sebenarnya bisa sekelas Cucak Hijau, apalagi kalau dapat bakalan yang masih muda, dilatih benar, iramanya bisa bervariasi juga," ujar Setiaji Prakoso salah satu pecinta burung pada Tribun Jogja, Kamis (25/9/2014).
Diakui Setiaji, penggemar Cucak Biru sementara ini memang kalangan tertentu. Sebab, pada umumnya mereka yang memelihara burung ini lebih tertarik dengan keindahan bulunya. Alhasil, burung ini lebih digemari sebagai burung hias.
Peredaran di pasar burung untuk Cucak Hijau relatif masih sedikit. Salah satu faktornya lantaran burung ini kurang diminati khususnya para pecinta burung pekicau. Faktor lain karena penangkaran burung ini juga sangat jarang. Di pasaran saat ini, harga untuk bakalan sekitar Rp 350 ribu. Bila sudah bersuara, harganya mencapai dua kalilipat atau sekitar Rp 700 ribu.
"Burung ini termasuk burung klangenan. Sebenarnya suaranya hampir mirip Cucak Hijau atau Branjangan. Perawatan sehari-hari cukup mudah, seperti pelihara Cucak Hijau, dikasih voer, pisang kapok dan jangkrik," terang Setiaji. (tribunjogja.com)