Warga Hargobinangun Manfaatkan Urine Kambing Jadi Biogas

Ditengah naiknya harga bahan bakar gas, warga Hargobinangun, Kecamatan Pakem justru mulai mengembangkan biogas yang lebih murah, bahkan bisa dibilang

Tayang:
Penulis: ang | Editor: tea

Laporan Reporter Tribun Jogja, Angga Purnama

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Ditengah naiknya harga bahan bakar gas, warga Hargobinangun, Kecamatan Pakem justru mulai mengembangkan biogas yang lebih murah, bahkan bisa dibilang gratis. Hal ini lantaran, bahan baku yang digunakan berasal dari urine ternak kambing.

Adalah kelompok peternak kambing Perkasa desa setempat yang mengawali pemanfaatan urine dan kotoran kambing menjadi biogas. Kegiatan itu merupakan hasil pengembangan biogas dengan bahan baku kotoran ternak sapi.

"Melihat potensi kotoran kambing yang belum dimanfaatkan secara maksimal, tidak salahnya kemudian dicoba dikembangkan menjadi biogas," papar Seksi Usaha Kelompok Peternak Perkasa, Hariyanto saat ditemui di lokasi pengolahan biogas di Ndari, Hargobinangun, Jumat (19/9).

Menurutnya, selama ini kotoran dari 70 ekor kambing yang dikelola kelompoknya hanya dimanfaatkan sebagai pupuk kompos saja. Namun, melihat kesuksesan pengolahan biogas dari kotoran sapi, kelompoknya mencoba inovasi serupa.

"Ternyata, hasil yang didapat sangat baik dan tidak kalah dengan biogas dari kotoran sapi," ungkapnya.

Bahkan, proses frekmentasi kotoran kambing untuk diambil gas metannya tidak butuh waktu lama, yakni sekitar 4 jam saja. Berbeda dengan kotoran sapi yang harus melalui proses frekmentasi hingga seminggu bahkan lebih.

"Sebelum difrekmentasi, kotoran yang bercampur urine kambing itu didiamkan selama 24 jam. Setelah itu, dimasukkan ke dalam biodegaster untuk dilepaskan gas metannya dan siap dalam 4 jam," jelasnya.

Energi terbarukan itu, kata dia, tergolong hemat. Karena, dari 60-70 kilogram kotoran kambing yang difrekmentasi dapat menghasilkan biogas yang bisa digunakan hingga jam secara terus menerus.

"Dari 70 ekor kambing, rata-rata didapat 60-70 kilogram kotoran. Semakin lama, semakin banyak biogas yang dihasilkan," kata dia.

Rencananya, inovasi biogas dari urine dan kotoran kambing itu akan dikembangkan lagi dan disalurkan ke rumah warga. Biogas yag dihasilkan melalui proses ini diperkira lebih stabil jika dibandikan dengan gas elpiji.

"Karena biogas tidak diisi ke dalam tabung jadi lebih stabil. Jika ada kebocoran sekalipun, masih bisa dikendalikan dan tidak sampai membahayakan," ujanya.

Tidak hanya itu saja, limbah dari hasil frekmentasi urine dan kotoran kambing itu masih dapat dimanfaatkan sebagai pupuk, pestisida, sampai fungisida organik. Limbah dalam bentuk cair dan padat itu bisa langsung digunakan tanpa melalui proses khusus.

"Nilai jualnya juga tinggi, anggap saja per kilogramnya dihargai Rp 1.000, peternak sudah bisa mendapatkan untung. Karena pembuatan pupuk organiknya tanpa menggunakan tahapan yang sulit dan bahan baku yagvmudah didapat," katanya.

Ia berharap adanya perhatian pemerintah terhadap inovasi dari warga seperti pemanfaatan kotoran hewan ternak sebagai biogas. Sehingga ke depannya dapat dikembangkan menjadi lebih baik lagi. (ang)
--

Tags
biogas
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved