Lipsus Rentetan Pembunuhan di Yogya

Pengamen Memaksa Meminta Rokok dan Uang

Saat mereka masih berdiri di depan pengasong, datang empat orang pengamen. Mereka langsung menyanyi, padahal Asrul mengangkat kedua tangan

Penulis: had | Editor: Ikrob Didik Irawan

Laporan Reporter Tribun Jogja, M Nur Huda

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Kapolsek Gondomanan, Kompol Heru Muslimin mengakui, pembunuhan Zulfikar oleh kelompok pengamen jalanan pada 15 Agustus 2014 memberi ilustrasi betapa kawasan Malioboro dari ujung ke ujung membutuhkan pengawasan yang jauh lebih ketat.

Kasus pembunuhan Zulfikar menurut kesaksian korban selamat, Asrul Rusdi (23), yang juga rekan Zulfikar, bermula saat keduanya tiba di Titik Nol sekitar pukul 22.15.

Sebelum kongkow, mereka membeli pipa penghisap rokok yang dijual di pengasong yang buka lapak di depan Monumen SO1 Maret.

"Kita kan mau ngadain acara pentas budaya di Malioboro, cuma enggak jadi. Lalu almarhum ngajak jalan-jalan dulu di sana," aku Asrul saat ditemui Tribun belum lama ini.

Saat mereka masih berdiri di depan pengasong, datang empat orang pengamen. Mereka langsung menyanyi, padahal Asrul mengangkat kedua tangan, meminta maaf, mereka menolak jasa para pengamen itu. Tapi keempat pengamen tersebut rupanya ngotot. Untuk kedua kalinya Asrul mengangkat tangan.

Tiba-tiba seorang dari oknum pengamen yang bertugas memegang tas plastik, memaksa Asrul dan Zulfikar memberi uang atau rokok. Asrul pun memberikan rokok yang sebagian sudah ia hisap.

"Mereka memaksa lagi dengan mengatakan, "harus kasih dan harus ikhlas". Padahal ini bukan persoalan ikhlas dan tidak ikhlas, tapi memang pribadi saya tidak ada. Lalu salah seorang pengamen merangkul bahu almarhum Zulfikar Majid dengan tangan kirinya sambil mengatakan " harus kasih uang/rokok"," kata Asrul melukiskan detik-detik kejadian. (tribunjogja.com)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved