Juki Tak Mau Jogja Berhenti Nyaman

Panggung Plasa Pasar Ngasem di Kota Yogyakarta dipadati ribuan orang, Selasa (9/9) malam.

Penulis: Muhammad Fatoni | Editor: tea
Tribun jogja/ Hendra Krisdianto
MENUTUP FKY - Ariyanti Luhur Tri Setyarini SH, kepala Bidang Sejarah Museum dan Purbakala Dinas Kebudayaan DIY, memukul gong sebagai simbol menutup rangkaian kegiatan FKY ke-26 di Plasa Ngasem, Yogyakarta, Selasa (9/9) malam. (Tribun Jogja/Hendra Krisdianto) 

Laporan Reporter Tribun jogja, M Fatoni

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Panggung Plasa Pasar Ngasem di Kota Yogyakarta dipadati ribuan orang, Selasa (9/9) malam. Mereka rela berdesakan, duduk lesehan dan berdiri di sekeliling panggung utama, demi menyaksikan kemeriahan serta ragam hiburan yang disuguhkan pada penutupan Festival Kesenian Yogya (FKY) ke-26.

SEJAK awal dibuka, acara yang dipandu oleh Alit-Alit Jabang Bayi dan Gundhi ini menarik perhatian para pengunjung. Guyonan segar ala kedua pembawa acara kocak tersebut, sering membuat penonton tertawa lepas.

Suasana semakin semarak saat grup Jogja Hip Hop Foundation (JHF) tampil di panggung utama. Sejumlah penonton, terutama anak muda, langsung bertepuk tangan, dan beberapa di antaranya ikut bergoyang mengikuti irama musik hip hop yang dibawakan JHF.

Penampilan JHF tersebut benar-benar membuat suasana hidup dan semarak. Terlebih, para personel Jogja Hip Hop Foundation juga membawakan lagu-lagu hits mereka, semisal Jogja Ora Di-Dol, dan Jogja Istimewa, yang mampu mengajak penonton ikut bernyanyi bersama.

Salah seorang personel JHF, Marzuki, pun sesekali berinteraksi dengan para penonton. Tak lupa, Marzuki dan kawan-kawan juga menyampaikan sejumlah kritik dan pesan terhadap pemangku jabatan di DIY.

"Seni budaya dan teman-teman seniman di Yogya harus benar-benar diperhatikan oleh dinas terkait. Karena selama ini kami melihat hal itu belum terlaksana secara penuh," kata Juki, sapaan akrab Marzuki.

Ia juga berujar, Yogyakarta harus tetap mempertahankan slogan 'Berhati Nyaman', dan menerapkannya secara nyata. Menurutnya, hal itu mulai tergerus seiring banyaknya pembangunan hotel, dan kemacetan arus lalu lintas yang semakin hari makin bertambah.

"Slogan Berhati Nyaman itu harus diwujudkan. Bukan malah Berhenti Nyaman. Semoga ini bisa benar-benar terlaksana dan dijaga keistimewaannya," ujar dia menegaskan.

Kemeriahan berlanjut. Para penonton kembali bersorak saat satu band papan atas Yogyakarta, Shaggy Dog, menghentak panggung Plasa Pasar Ngasem.

Penutupan FKY ke-26, Selasa malam, memang menyuguhkan sejumlah pertunjukan yang memadukan unsur hiburan tradisional dan modern. Seni tradisional diwakili oleh pertunjukan tari Beksan Wanara oleh kelompok Swagayogama UGM, sedangkan seni modern ditunjukkan oleh JHF, Every Day Band, dan Shaggy Dog.

Di luar dugaan
Ketua Umum Panitia FKY 26, Setyo Herwanto, menuturkan bahwa pelaksanaan FKY tahun ini di luar dugaannya. Hal tersebut terlihat dari jumlah orang yang mengunjungi area penyelenggaraan FKY setiap hari.

Ia memaparkan, berdasar catatan panitia, jumlah pengunjung terendah tercatat sebanyak 7.096, sedangkan angka kunjungan tertinggi 44.954. Panitia mencatat, rata-rata kunjungan per hari adalah 18.689 pengunjung.

"Jujur, ini memang di luar perkiraan dan ekspektasi kami. Nilai tersebut juga telah melewati jumlah kunjunga FKY tahun sebelumnya," tutur Setyo Herwanto.

Selain itu, ia juga menjabarkan, gelaran FKY kali ini mendatangkan manfaat tersendiri bagi para pelaku seni, pedagang insustri kreatif, hingga tukang parkir. Setyo menyebut, omset perdagangan di area FKY mencapai Rp 1 miliar lebih. Adapun para tukang parkir, ia menyebut, mengantongi Rp 500 juta lebih, selama 21 hari penyelenggaraan FKY 26.

"Ini membuktikan bahwa seni-budaya memiliki andil bagi kehidupan masyarakat Yogya. Tentu kami berharap FKY berikutnya bisa lebih baik dan istimewa," katanya. (muchamad fatoni)

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved