Industri Kreatif Digital Yogya
Omset Perusahaan Kreatif Digital Jogja Mencapai Miliaran
Ditengah julukannya sebagai Kota Pelajar, Seniman, Kota Budaya maupun Kota Wisata, kini Yogya juga menunjukan perkembangan pesat dalam bidang industri
Penulis: Mona Kriesdinar | Editor: tea
Laporan Reporter Tribun Jogja, Mona Kriesdinar
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Ditengah julukannya sebagai Kota Pelajar, Seniman, Kota Budaya maupun Kota Wisata, kini Yogya juga menunjukan perkembangan pesat dalam bidang industri kreatif digital. Hal ini terungkap dalam survey yang dilakukan Jogja Digital Valley (JDV) bersama dengan Merah Institute tentang Sensus Industri Kreatif Digital Jogja 2014. Dalam laporannya, mereka menyimpulkan bahwa dalam kurun waktu 5 tahun terakhir, bermunculan berbagai perusahaan kreatif digital baru di Yogyakarta. Sebagian besar, perusahaan kreatif digital di Yogya merupakan startup yang mulai tumbuh sejak tahun 2009. Kemudian pada tahun 2012 dan 2013 menjadi tahun yang paling banyak melahirkan startup dengan jumlah mencapai 35 startup per tahun.
Pada sensus kedua yang mereka lakukan, mereka mencoba melakukan sensus mengenai perusahaan yang bergerak di industri kreatif digital. Mereka mendasarkan acuan pertanyaan pada analisis mengenai potensi ekonomi yang dapat dihasilkan oleh industri kreatif digital. Setelah melakukan survei pada lebih dari 200 perusahaan dan melakukan penyaringan data, akhirnya diperoleh 156 perusahaan yang masuk kategori industri kreatif digital Jogja.
Adapun dari total responden tersebut, 61,59% diantaranya menjual produk dan jasa sekaligus. Dengan 76,82% responden menyatakan bahwa perusahaannya dibangun dengan modal sendiri dan hanya 3,97% yang mendapat dana dari pemerintah. Sebagian besar dari mereka memulai usaha dengan bermodal di bawah satu juta rupiah (27,81%) sementara 29,8% yang lain memulai dengan modal di atas Rp 20 juta.
Dengan modal sebesar itu, sebagian besar menyatakan bahwa mereka mampu meminimalisir biaya prodeksi hingga batas minimal. Namun disaat bersamaan mereka juga bisa memaksimalkan pendapatan.
Berdasarkan survei tersebut, diperoleh informasi bahwa mereka memiliki besaran ongkos produksi yang bervariatif pada tahun pertama. Rinciannya, 26,49% menyatakan dapat meminimalisasi biaya hingga di bawah Rp 5 juta, sementara 25,83% lainnya beroperasi dengan biaya di atas Rp 50 juta.
Sama halnya dengan omset tahunan yang juga bervariasi. 29,25% diantaranya menyatakan beromset di bawah Rp 25 juta. 14,97% menyatakan beromset antara Rp 25 juta hingga Rp 50 juta. Selain itu, sebanyak 4,76% atau 7 perusahaan menyatakan bahwa mereka memiliki omset di atas Rp 5 milyar.
Hal ini tercermin juga dalam profit. Dimana sebanyak 27,78% memiliki profit di bawah Rp 10 juta, 20,14% memiliki profit tahunan antara Rp 10 juta sampai Rp 25 juta. Serta 7 perusahaan atau 4,86% memiliki profit di atas Rp 1 milyar per tahun. (tribunjogja.com)