HUT Kemerdekaan RI ke 69
Wartawan Belum Merdeka di Hari Kemerdekaan
wartawan senior Magelang ini membacakan orasi budayanya bertajuk "Pers Magelang Berangkat ke Tempat Dalam"
Penulis: Agung Ismiyanto | Editor: Ikrob Didik Irawan
Laporan Reporter Tribun Jogja, Agung Ismiyanto
TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Ketika seorang kawan seprofesi dibunuh dan terkoyak serangan bom molotov, maka hal itu menjadi sinyal kemerdekaan mereka yang telah terpayungi Undang-undang Pers patut direfleksikan. Kami yakin bahwa penegak hukum mampu menguak ikhwal sesungguhmya atas perkara yang pertama kali terjadi di Kota Sejuta Bunga ini. Sebab jika tidak, akan menjadi preseden buruk untuk pers di daerah ini pada masa yang akan datang.
PENGGALAN kalimat tersebut diteriakkan dengan lantang oleh M Hari Atmoko, jurnalis kantor berita Antara di puncak Bukit Tidar, Kota Magelang, Minggu (17/8/2014). Hari Atmoko, yang merupakan seniman sekaligus wartawan senior Magelang ini membacakan orasi budayanya bertajuk "Pers Magelang Berangkat ke Tempat Dalam".
Di puncak bukit ini, puluhan orang yang terdiri dari wartawan media lokal dan nasional, seniman, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), dan Lembaga Pers Mahasiswa Universitas Tidar, melaksanakan upacara bendera memperingati HUT Kemerdekaan RI ke 69. Upacara sederhana ini, bertajuk "Wartawan (belum) Merdeka".
Hari juga menyebut, pemilihan puncak gunung Tidar sebagai lokasi upacara memiliki alasan bahwa diatas gunung yang konon sebagai "Pakuning Tanah Jawa" ini terdapat sasmita berhuruf jawa Tiga S (baca: So), yang menjadi tempat tambatan pemaknaan atas nilai-nilai kejawaan "Sapa Salah Seleh".
Orasi yang diteriakkan dengan lantang merupakan peringatan kepada manusia untuk selalu tekun dalam pencarian jalan kebenaran di ruang kemerdekaan ini. Karenanya, melalui upacara tersebut para insan pers Magelang ingin merefleksikan tentang kemerdekaannya saat mengemban tugas mulia untuk kerpentingan pembangunan, demokrasi dan kemanusiaan.
Berangkat dari serangkaian aksi kekerasan terhadap profesi wartawan di Indonesia yang masih marak. Publik tidak akan pernah lupa dengan kasus pembunuhan Udin, wartawan harian Bernas Yogyakarta beberapa tahun lalu. Kemudian yang terbaru, aksi pelemparan bom molotov di kediaman Frietqi Suryawan alias Demang, wartawan Radar Jogja, di Jalan Jagoan Kota Magelang.
"Pelemparan bom molotov di rumah Demang merupakan pukulan bagi insane pers di Kota Magelang. Dalam orasinya, Hari mengapresiasi kinerja para penegak hukum di Koota Magelang yang telah mengurus bom molotov hingga ke meja pengadilan belakangan ini," kata Hari. (tribunjogja.com)