Gagal Lelang, Kontraktor Proyek Revitalisasi BCB Tak Penuhi Kualifikasi

Pemda DIY tengah dihadapkan banyaknya proyek-proyek revitalisasi Bangunan Cagar Budaya (BCB) yang gagal lelang

Gagal Lelang, Kontraktor Proyek Revitalisasi BCB Tak Penuhi Kualifikasi
Tribun Jogja/ Hendra Krisdianto
Sekitar 20 warga dari berbagai komunitas di Yogyakarta bekerja sama membersihkan sebuah Bangunan Cagar Budaya (BCB) yang beralamat di Jalan Jenderal Sudirman 2, Yogyakarta, Kamis (15/5) sore. Mereka membersihkan bangunan dua lantai yang letaknya di tenggara Tugu Pal Putih itu dari berbagai poster dan tulisan cat. 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Ekasanti Anugraheni

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pemda DIY tengah dihadapkan banyaknya proyek-proyek revitalisasi Bangunan Cagar Budaya (BCB) yang gagal lelang. Akibatnya, realisasi Dana Keistimewaan (Danais) 2014 sangat minim.

Kepala Dinas Kebudayaan DIY GBPH Yudhaningrat mengatakan proyek yang gagal lelang itu antara lain revitalisasi bangunan Bangsal Kencono Keraton Kasultanan Yogyakarta, rehabilitasi Ndalem Yudhaningratan serta pengembangan makam Raja di Imogiri. Proyek-proyek ini gagal karena tidak ada kontraktor yang memenuhi kualifikasi. Sebab, perbaikan Bangunan Cagar Budaya (BCB) semacam itu membutuhkan material, desain dan teknik khusus.

"Bangunan Keraton itu kan harus memenuhi standar khusus. Kayunya harus umur sekian. Modelnya harus khusus," ungkap Gusti Yhuda, Senin (11/8) malam.

Adik Sultan HB X ini bahkan mengira para kontraktor ketakutan untuk mengerjakan proyek perbaikan BCB. Dinas Kebudayaan DIY beberapa kali memanggil para peserta lelang. Tapi tak satupun dari mereka yang memenuhi panggilan. "Mungkin takut," ujarnya.

Dalam program keiatimewaan tahun ini, ada puluhan BCB yang akan diperbaiki. Selain banguanan Keraton, beberapa proyek rehab kediaman penghageng keraton juga gagal. Alasannya sama, sulit mencari kontraktor pelaksana. Padahal, ada alokasi mencapai Rp 100 miliar dari Danais 2014 untuk perbaikan BCB di seluruh DIY.

Khusus di termin pertama saja, Disbud DIY ditarget harus merealisasikan Rp 99 miliar anggaran. Secara matematis, mereka harus mengeluarkan sekitar Rp 1,5 miliar setiap hari. "Bendaharawannya pusing," ungkap pria yang juga menjabat sebagai Penghageng Keraton itu.

Penulis: esa
Editor: tea
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved