Ramadan 2014

Cerita di Balik Mualafnya Seorang Erol Iba

Menurut pemain berusia 34 tahun itu, banyak hal yang membuatnya tergugah untuk memeluk agama Islam

Tayang:

TRIBUNJOGJA.COM - MUNGKIN banyak yang belum mengetahui cerita di balik bek Sriwijaya FC, Erol Iba, memutuskan untuk menjadi mualaf. Tentu saja, proses yang dilaluinya untuk memeluk agama Islam tak terjadi secara instan.

Menurut pemain berusia 34 tahun itu, banyak hal yang membuatnya tergugah untuk memeluk agama Islam. Diceritakan Erol, sebelum memutuskan menjaid muslim, nuansa agama Islam telah dirasakannya sejak 1998.

Itu ketika pertama kali dirinya menginjakkan kaki di kota Padang untuk memperkuat Semen Padang. Hal paling menggugahnya memeluk Islam adalah aktivitas umat Islam, yang membuatnya merasa tenang dan hikmat ketika melihat maupun mendengarnya.

Ia pun mencoba mempelajarinya sedikit demi sedikit, sebelum akhirnya memutuskan memeluk agama Islam pada 2002. "Pertama saya lihat cara orang Islam bersembahyang, khusyuk kelihatannya. Lalu lihat orang ngaji dan adzan, seperti mereka sedang berbicara langsung dengan Tuhan-nya. Dari situlah saya mulai belajar, dan akhirnya saya masuk Islam, lalu menikahi istri saya yang sekarang," ungkap Erol, seperti dilansir goal.com.

Lahir dari keluarga non-muslim, tentunya keputusan pemain asal Papua ini berpindah agama tak langsung mendapat respons yang baik dari seluruh keluarga. Khususnya sang ibu yang menentang keputusannya tersebut.

"Ibu yang pertama tak begitu setuju dengan keputusan saya. Tapi Alhamdulillah, seiring berjalannya waktu akhirnya bisa menerimanya," terang Erol yang merupakan anak sulung dari empat saudara ini.

"Kalau bapak prinsipnya terserah anak-anak. Kalau menurut anaknya itu baik, silakan. Bahkan beliau pesan setelah masuk Islam jangan lupa sembahyang, berperilaku yang baik. Karena apapun agamanya kalau perilaku tak baik, tetap sama saja tak akan jadi orang baik," tambah mantan penggawa timnas Indonesia itu.

Erol pun bercerita tentang pengalaman pertama kali menunaikan ibadah puasa. "Sebelum masuk Islam saya sudah terbiasa ikut puasa pas tahun 1998, karena mayoritas teman-teman saya berpuasa waktu di Semen Padang. Tapi puasa saya tak seperti seorang muslim, kapan mau puasa ya puasa, kalau tidak ya tidak," cerita Erol.

Tapi setelah memeluk agama Islam, Erol tak ingin meninggalkan Rukun Islam keempat itu. "Tak peduli mau dalam keadaan latihan. Karena puasa ini sudah jadi kewajiban seorang muslim," tegasnya.

Setelah menjadi seorang muslim, Erol bertekad senantiasa memperbaiki ibadahnya. "Saya berharap, puasa tahun ini ibadah saya lebih ditingkatkan walau saya juga harus menjalani latihan. Saya juga saat ini sambil belajar ngaji, karena belum begitu pandai," urainya. (Tribunjogja.com)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved