Gerbang Megah Itu Bernama Incheon
Meledaknya "Korean Pop" di Indonesia turut mendorong minat turis Indonesia melancong ke negeri ginseng ini
Penulis: Setya Krisna Sumargo | Editor: Ikrob Didik Irawan
Laporan Reporter Tribun Jogja, Setya Krisna Sumarga
TRIBUNJOGJA.COM - Garuda Indonesia Branch Office (BO) Yogyakarta menggelar agent trip apreciation untuk para mitra usaha ke Korea Selatan (Korsel) pada 13-18 Juni 2014. Ada sejumlah fakta menakjubkan dari apa yang sudah dan sedang dikerjakan pemerintah serta rakyat negeri ginseng itu. Berikut laporan perjalanannya:
INCHEON International Airport adalah yang mula-mula menyedot rasa takjub kita. Bandara berkode ICN (IATA) ini merupakan bandara internasional terbesar di Asia, penghubung utama penerbangan ke kawasan Asia Timur dan Asia Tengah.
Versi Global Traveller, Incheon International Airport tiga tahun berturut-turut (2006, 2007, 2008) menjadi bandara terbaik di dunia. Terletak sekitar 70 kilometer sebelah barat Seoul, Incheon menggantikan Bandara Internasional Gimpo (Kimpo) yang sekarang melayani domestik.
Skytrax pada 2012 menetapkan Incheon menjadi yang terbaik sejagat. Namun tahun berikutnya (2013), Incheon tergeser Changi International Airport Singapore. Kedua bandara ini memang berlomba menjadi yang terbaik di dunia.
Incheon hadir sesudah Olimpiade Seoul 1988, yang membuat Gimpo di Seoul kala itu dirasakan terlalu sesak. Megaproyek bandara senilai 2,5 miliar dollar AS (sekitar Rp 28,4 triliun) itu akhirnya memang mendatangkan rezeki berlimpah untuk Korsel.
Jutaan wisatawan dari berbagai kawasan berdatangan. Garuda Indonesia sebagai maskapai nasional Indonesia pun turut memanfaatkan peluang ini dengan membuka penerbangan langsung (direct flight).
Ada dua trip penerbangan setiap harinya menggunakan pesawat berbadan lebar Airbus 330-200 dari Bandara Internasional Ngurah Rai Bali dan Bandara Internasional Soekarno-Hatta Tangerang. Rute serupa juga dilayani maskapai Korean Air.
Bimo, dari Yogya Olah Wisata (YOI) Tour & Travel, mengatakan, volume trip wisata grup ke Korsel meningkat sejak tahun lalu. "Dari Januari hingga pertengahan tahun ini, alhamdulillah setiap bulan kita ada trip wisata ke Korea," katanya di Seoul pekan lalu.
Meledaknya "Korean Pop" di Indonesia turut mendorong minat turis Indonesia melancong ke negeri ginseng ini. Sejumlah situs dan lokasi syuting film drama seperti Jade Garden, Boys Before Flowers (Meteor Garden ala Korea, Red), dan Winter Sonata di Pulau Nami diincar para traveller.
Selain trip wisata, membanjirnya investasi serta produk manufaktur Korsel di Indonesia membuat rute ini begitu manis. Siapa sekarang yang tak kenal produk raksasa elektronik Samsung, LG, jejaring ritel Lotte, atau mobil-mobil besutan Hyundai dan KIA?
Incheon International Airport memang memiliki segala keistimewaan, mulai arsitekturnya yang futuristik, luasan area, fasilitas yang memanjakan penumpang, serta infrastruktur pendukungnya yang super lengkap dan efektif. Sarana transportasi internalnya pun istimewa.
Dari terminal kedatangan ke pengambilan bagasi dan pintu keluar, penumpang dilayani kereta listrik monorel yang beroperasi teratur 24 jam penuh dengan jeda tak sampai lima menit. Soal layanan internet gratis di passenger terminal, jangan tanya lagi. Memuaskan.
Bandara Internasional Incheon dibangun secara bertahap sejak 1992 di sebuah pulau terpisah dari daratan Semenanjung Korea. Pada 29 Maret 2001, atau hampir 10 tahun sejak ground breaking, bandara ini resmi dioperasikan setelah lengkap fasilitasnya.
Bandara ini didesain dan dibangun konsorsium Heerim-Mooyoung-Gensler-Yungdo (HMGY). Selain membangun terminal, konsorsium ini memasukkan desain menara kontrol kedua, sebuah stasiun kereta, fasilitas parkir, dan Intra Airport Transit (IAT).
Secara keseluruhan (dilihat dari udara) desain komplek bandara ini terinspirasi bentuk burung Phoenix sebagai titik tolak pembuatan desainnya. Phoenix dianggap sebagai lambang otoritas, umur panjang, kekuatan dan keseimbangan.
Bandara Incheon dibangun pulau, gabungan pulau Yeongjong-Yongyu, yang kemudian disatukan melalui reklamasi. Dua jembatan panjang, Incheon Brigde, melintasi laut sebagai penghubung ke daratan Korsel. Tersedia pula layanan kapal feri.
Kemegahan dan wahnya fasilitas Incheon pun tak urung mengundang decak kagum GM Garuda BO Yogyakarta, Muhammad Anshori, dan sejumlah pelaku usaha mitra Garuda ketika menginjakkan kaki di bandara ini.
Meski sepintas kelihatan sepi karena jarang sekali melihat pegawai bandara, semua sudut dan area bandara terasa lapang, bersih, terawat, dan alat navigasi antar-ruangan sangat mudah dipahami.
Cahaya matahari dimaksimalkan dengan dinding ruangan metal silver yang tinggi dan serbakaca. Dalam skala lebih kecil, Bandara Internasional Hasanuddin, Gowa, Sulsel, Kualanamu di Sumut, dan terminal baru Bandara Internasional Ngurah Rai yang sedang dibangun, juga mengadopsi desain bangunan yang memanfaatkan cahaya alam untuk meminimalisir penggunaan lampu dan listrik.
Penerbangan nonstop tujuh jam dari Bali atau Jakarta pun menjadi tidak terasa melelahkan setiba di Incheon, begitu melihat wahnya jendela utama Semenanjung Korea ini. Garuda Indonesia menggunakan jadwal penerbangan malam hari (red eye flight), baik dari Bali maupun Jakarta.
Berangkat sekitar pukul 23.00 (SHIA) dan 00.15 (Ngurah Rai), pesawat tiba di Incheon lebih kurang pukul 08.30. Waktu di Seoul lebih cepat dua jam dari Jawa-Bali, atau sama dengan perbedaan waktu antara Jawa dan Papua.
Bagi pendatang yang masuk Korsel sendirian maupun keluarga, transportasi dari dan menuju pusat kota Seoul, bisa menggunakan taksi, bus reguler yang terhubung ke terminal pusat kota maupun ke Gimpo, atau naik kereta yang langsung menuju Stasiun Sentral Seoul.
Sangat mudah menemukan titik-titik moda transportasi ini, termasuk bagi mereka yang baru pertama kali datang di Incheon. Papan informasi dan petunjuk ditulis minimal menggunakan aksara hangeul (Korea) dan latin (Inggris).
Bagi grup yang difasilitasi agen, tentu tinggal datang, duduk manis di bus, selanjutnya berkeliling menikmati pesona negeri ginseng modern, yang dibangun atas kerja keras para chaebol ini. (Tribunjogja.com)