Jogja Fashion Week 2014
Busana Ready To Wear Membumi Di Jogja Fashion Week 2014
Jogja Fashion Week 2014 tidak hanya dipadati karya perancang asli Yogyakarta
Penulis: tea | Editor: tea
Laporan Reporter Tribun Jogja, Theresia Andayani
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Jogja Fashion Week 2014 tidak hanya dipadati karya perancang asli Yogyakarta. Banyak perancang dari daerah lain di nusantara yang turut berperan serta dalam pagelaran yang berlangsung sejak tanggal 18 – 22 Juni 2014 ini. Terlepas dari masih adanya kekurangan, para perancang muda yang tengah mengawali
kiprahnya ini mengerdipkan sinyal kuat optimisme dunia mode tanah air.
Dalam penyelenggaraannya yang ke sembilan, pekan mode yang dilangsungkan di Jogja Expo Center tetap konsisten untuk terus mengangkat produk fashion yang mengusung wastra nusantara dan seni budaya bangsa. Mengusung tema “Aura” para desainer diharapkan mampu menciptakan produk fashion yang memancarkan pesona. Produk fashion ready to wear yang diciptakan tidak hanya indah secara tampilan, namun juga harus memiliki ciri khas sang kreator dan memberikan kenyamanan kepada konsumen.
Sebagai brand batik tulis yang lahir di Yogyakarta, Sidji Batik Indonesia pun tak ketinggalan untuk berperan serta dalam pekan mode terbesar di Yogyakarta ini. Menggandeng desainer muda, Puput Sumargiana, Sidji Batik menampilkan 16 koleksi busana di panggung peraga Fashion Parade yang dilangsungkan pada Jumat (20/6/2014). Busana-busana tersebut terbagi menjadi 10 busana wanita dan 6 busana pria.
Desainer muda asal Ponorogo yang masih menimba ilmu di Universitas Negeri Yogyakarta ini membuka show sore itu dengan koleksi cocktail dress, dilanjutkan dengan busana sporty untuk pria, dan diakhiri dengan evening gawn yang anggun.
Seluruh materi penciptaan karya Puput menggunakan kain Sidji Batik yang penuh warna dan corak abstrak kontemporer.
“Berhubung kain Sidji Batik yang saya gunakan sudah kaya warna dan corak, maka untuk koleksi busana kali ini tidak saya kombinasikan dengan materi lain. Jika pun ada itu hanya sedikit,” ujar Puput.
Dalam pemilihan materi karyanya, Puput cenderung memilih batik dengan warna cerah dan yang memiliki banyak corak atau isen-isen. “Beberapa koleksi saya memang mengusung trend warna 2015, yakni warna neon yang cerah dan ngejreng,” imbuhnya.
Mengambil tema “Forget Me Not” yang bermakna jangan lupakan aku, Puput berusaha untuk tidak melupakan proses dalam sebuah penciptaan karya. “Pembuatan selembar kain batik itu pasti melewati proses yang panjang, dimana ada pakem-pakem yang harus diikuti. Nah, wujud penghargaan terhadap proses yang mulai memudar itulah yang saya angkat dalam tema rancangan kali ini,” jelasnya.
Kata “me” yang berarti aku dalam koleksi Puput memiliki 3 arti, yakni Aku sebagai Sidji Batik, Aku sebagai proses dalam membatik, dan Aku sebagai desainer.
Tentang rancangannya di JFW 2014 ini Puput juga berkisah bahwa ia mendapatkan ide rancangan dari canting yang memiliki bentuk kuat dan tegas. “Dari melihat canting itu maka saya terinspirasi untuk menciptakan busana dengan silhouette yang tegas dan kaku, namun tetap elegan dan mewah,” ujarnya.
Busana kreasi desainer yang baru memulai debutnya di panggung peraga ini juga memiliki ciri khas urban look.
Menurut Marcom Sidji Batik, Denny Arivian, keikutsertaan Sidji Batik dalam gelaran JFW ini merupakan kedua kalinya, sedangkan keikutsertaan dalam Fashion Parade adalah kali pertamanya. Lebih lanjut Denny menambahkan bahwa sebagai pelaku industri fashion, sudah sepatutnya Sidji Batik mendukung acara yang bertujuan untuk mengenalkan potensi industri kreatif Yogyakarta ke level yang lebih tinggi, karena itu Sidji Batik merasa bangga bisa menjadi bagian dari JFW 2014.
Jika selama ini Sidji Batik hanya dikenal sebagai produsen kain batik tulis dengan motif abstrak kontemporer, lewat acara JFW Sidji Batik juga akan semakin dikenal sebagai pelaku bisnis fashion ready to wear. (*)