Urbanisasi dan Krisis Lingkungan Masih Jadi Persoalan
Upaya menjalankan pembangunan berkelanjutan saat ini menghadapi dua persoalan, yaitu urbanisasi dan krisis lingkungan.
Penulis: nbi | Editor: tea
Laporan reporter Tribun Jogja, Niti Bayu Indrakrista
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Upaya menjalankan pembangunan berkelanjutan saat ini menghadapi dua persoalan, yaitu urbanisasi dan krisis lingkungan. Perguruan tinggi dan masyarakat diharapkan bisa berperan aktif untuk menutupi peran pemerintah dan swasta yang dianggap belum maksimal dalam menjalankan pembangunan berkelanjutan.
Profesor dari Universitas Le Havre Perancis, Darwis Khudori mengatakan, hambatan yang disebabkan urbanisasi dan krisis lingkungan tersebut menimbulkan persoalan bersifat metrial maupun immaterial.
"Persoalan immaterial misalnya perbedaan budaya dan gaya hidup," kata Khudori dalam seminar bertajuk 'The State, Business, Civil Society and The Role of University In Search of a Common Platform for Collaboration' di Perpustakaan UGM, Yogyakarta, Senin (9/6/2014).
Pembangunan berkelanjutan atau sustainable development adalah pembangunan yang berprinsip memenuhi kebutuhan sekarang tanpa mengorbankan pemenuhan kebutuhan bagi generasi masa depan. Di antaranya melalui upaya memperbaiki kehancuran lingkungan tanpa mengorbankan kebutuhan pembangunan ekonomi dan sosial.
Sementara itu menurut koordinator Organization for Industrial Spiritual and CUltural Advancement (OISCA) Yukio Kamino, aktivias manusia saat ini menjadi faktor dominan yang mempengaruhi iklim di bumi. Karena itu, menjadi peting bagaimana upaya menyadarkan masyarakat mengenai pentingnya menjaga lingkungan hidup.
Menurut Yukio, pendidikan tinggi bisa memberi pengetahuan dan penyadaran bahwa manusia harus menyesuaikan diri dengan bumi.
Selain itu, lembaga pendidikan tinggi juga berfungsi sebagai perekat antara ketiga aktor utama yaitu, pemerintah, pasar dan masyarakat sipil.
Hal serupa diungkapkan pengajar Manajemen dan Kebijakan Publik UGM, Gabriel Lele. Ia menilai, perguruan tinggi memiliki kelebihan yang membuatnya bisa mengambil peran tersebut.
"Perguruan tinggi memiliki netralitas dan otonomi yang cukup besar, sehingga dapat memberikan kontribusi dengan melakukan konfiguransi antar aktor," ujar Gabriel. (*)