Pemilu 2014

Lawan Kader Muda, Derajat Ical Dinilai Turun

Politisi senior Partai Golkar Fahmi Idris menilai derajat Aburizal Bakrie (Ical) turun karena harus melawan sejumlah kader muda partai

Lawan Kader Muda, Derajat Ical Dinilai Turun
Istimewa
Aburizal Bakrie menunjukkan jari yang dicelup tinta setelah pemungutan suara, Rabu (09/04/2014).

TRIBUNJOGJA.COM, JAKARTA - Politisi senior Partai Golkar Fahmi Idris menilai derajat Aburizal Bakrie (Ical) turun karena harus melawan sejumlah kader muda partai ini yang memutuskan mendukung Joko Widodo-Jusuf Kalla.

"Turun derajat Ical berantem sama anak kecil (kader muda)," kata Fahmi seusai menghadiri acara deklarasi Relawan Hijau Hitam Nusantara Pro Joko Widodo dan Jusuf Kalla, di Jakarta, Jumat malam.

Pernyataan Fahmi itu, menyusul adanya sejumlah kader Golkar yang dimotori kader muda untuk mendukung pasangan Joko Widodo (Jokowi) dan Jusuf Kalla (JK) dalam Pilpres 2014.

Keputusan tersebut berbeda dengan keputusan DPP Golkar melalui ketua umumnya, Aburizal Bakrie yang mendukung pencalonan Prabowo-Hatta.

Menurut Fahmi, perbedaan pendapat juga pernah terjadi di tubuh Golkar dalam Pemilu 2004 saat kader Golkar terpisah menjadi dua kubu, pro-Megawati dan pro-Jusuf Kalla.

"Tapi, kala itu berantem-nya sama orang-orang yang setara. Kalau sekarang Ical dengan anak-anak muda," kata Fahmi.

Fahmi Idris sendiri merupakan satu dari sejumlah kader Golkar yang tidak mengikuti instruksi DPP Golkar melalui Ketua Umum Aburizal Bakrie untuk mendukung Prabowo-Hatta.

Fahmi menyebut kader Golkar yang saat ini mendukung Jokowi-JK adalah kader kunci yang dimotori kader muda Golkar.

Keputusan kader-kader ini mendukung Jokowi-JK, kata Fahmi, telah membuat DPP Golkar risau, karena kader-kader itu sangat potensial membawa gerbong kereta Golkar yang cukup panjang.

"Kader-kader Golkar ini (yang mendukung Jokowi-JK) akan membawa kereta yang sangat panjang, DPP sangat tahu itu makanya mereka marah sekali waktu tahu kami mendukung pak JK," katanya.

Lebih jauh dia mengatakan Prabowo pernah menyampaikan bahwa Golkar penentu kemenangan Prabowo-Hatta pada Pilpres 2014, namun menurutnya, Prabowo Subianto tidak tahu peta suara akar rumput Golkar.

"Dia tidak tahu akar rumput Golkar. Saya sudah lama berkecimpung di Golkar sangat tahu bagaimana memenangkan medan-medan basis massa Golkar di daerah," kata Fahmi.

Sementara itu terkait keputusan Fraksi Partai Golkar merotasi sejumlah kader di DPR yang kedapatan mendukung pasangan Jokowi-JK, Fahmi selaku senior menyesalkan karena rotasi itu dinilai hanya akan merendahkan wibawa DPP Golkar saja.

"Tapi saya kira hanya sebatas rotasi atau diminta mundur dari jabatan saja, tidak akan sampai dipecat seperti jaman dulu. Karena DPP Golkar sekarang tampaknya lebih cerdas," ujar Fahmi.

Pemilu Presiden 9 Juli 2014 diikuti dua pasangan capres-cawapres, Prabowo Subianto-Hatta Rajasa dan Joko Widodo-Jusuf Kalla. (ANT)

Editor: tea
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved