Mahasiswa UNY Buat Tempe dari Biji Lamtoro

Ide tersebut bermula saat mulai maraknya kedelai impor yang digunakan sebagai bahan pembuat tempe, yang membuat harga tempe saat itu mahal

Tayang:
Penulis: Muhammad Fatoni | Editor: Ikrob Didik Irawan
Foto: Athika Wirastiti untuk Tribun Jogja
Biji Lamtoro jarang termanfaatkan ternyata dapat dibuat menjadi tempe sebagai alternatif diversifikasi makanan berbasis kearifan lokal. 

Laporan Reporter Tribun Jogja, M Fathoni

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Tempe bukan makanan asing bagi masyarakat Indonesia. Hampir seluruh masyarakat juga pernah mengonsumsi makanan satu ini. Meski sederhana, namun makanan yang umumnya dibuat dari kedelai ini dikenal sebagai sumber protein.

MASYARAKAT selama ini mengenal dan mengonsumsi tempe yang terbuat dari kacang kedelai. Namun, beberapa waktu lalu, harga kedelai merangkak naik membuat makanan yang satu ini mulai dipandang sebagai sumber makanan cukup mahal.

Hal itupun memancing sejumlah mahasiswa asal Fakultas MIPA Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) mencoba inovasi baru. Mereka adalah Imas Widowati dan Athika Wirastiti dari Prodi Pendidikan Kimia UNY, yang berkreasi dengan membuat tempe dari bahan dasar biji lamtoro.

Ide tersebut bermula saat mulai maraknya kedelai impor yang digunakan sebagai bahan pembuat tempe, yang membuat harga tempe saat itu mahal. Hal itupun berimbas pada para perajin, pedagang, hingga konsumen yang juga merasakan dampak dari naiknya harga makanan ini.

"Kami awalnya melihat permasalahan tersebut dan berpikir perlu dicari alternatif bahan dasar pembuatan tempe. Jadi sebagai upaya pemenuhan kebutuhan protein masyarakat, tapi juga sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap kedelai impor," jelas Imas.

Ia menuturkan, biji lamtoro akhirnya dipilih setelah ia dan rekannya meneliti kandungan dari biji tersebut. Berdasarkan riset yang mereka lakukan, kedua mahasiswa tersebut menemukan bahwa biji lamtoro mengandung protein 40%, lemak 6,13%, bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN) 24,53%, serat kasar 8,79% serta mineral 9,32%.

Dari data tersebut, Imas beranggapan bahwa sebenarnya biji lamtoro ini memiliki potensi sebagai sumber protein. Terlebih, selama ini biji lamtoro umumnya hanya dibuat sayur oleh masyarakat atau lalapan, serta dianggap kurang berdaya guna atau memiliki nilai ekonomi.

"Dengan memperhatikan unsur kimia yang terkandung dalam biji lamtoro, maka kami berpikir dapat digunakan sebagai bahan pengganti kacang kedelai untuk pembuatan tempe," imbuhnya.

Sementara, Athika Wirastiti, menambahkan, tempe dari biji lamtoro memiliki rasa khas. Ada sedikit perbedaan jika dibandingkan dengan tempe kedelai, baik dari sisi rasa maupun ukuran.

"Misalnya, bijinya lamtoro lebih kecil dan lebih halus dibandingkan kedelai. Selain itu tempe biji lamtoro rasanya sedikit berlemak karena kulit bijinya, itu yang membuat rasanya khas," paparnya.

Secara umum tempe biji lamtoro dan tempe kedelai tidak jauh berbeda. Baik dari proses pembuatan dan manfaatnya, kedua tempe ini disebutnya saling menggantikan, karena kandungan lamtoro dan kedelai sama-sama mengandung protein.

"Proses pembuatannya mirip proses pembuatan tempe kedelai, jadi memang biji lamtoro ini bisa menjadi alternatif untuk bahan pembuat tempe," ujar Athika. (Tribunjogja.com)

Tags
tempe
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved