Lipsus Penyakit Degeneratif di Yogya

Dinkes Sebar Pos Pembinaan Terpadu di 76 Puskesmas

Tujuannya untuk mengetahui sedini mungkin masyarakat yang memiliki risiko tinggi terkena DM

Dinkes Sebar Pos Pembinaan Terpadu di 76 Puskesmas
smartchampionplus.weebly.com
Ilustrasi : Penyebab Penyakit

Laporan Reporter Tribun Jogja, Hendy Kurniawan

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Dinkes DIY telah menyebar pos pembinaan terpadu di 76 Puskesmas. Tujuannya untuk mengetahui sedini mungkin masyarakat yang memiliki risiko tinggi terkena DM. Sehingga dapat menekan angka kematian atau minimal mencegah Diabetes Mellitus (DM) berujung pada komplikasi penyakit lain.

Pada pos tersebut disediakan alat-alat pendeteksi dini potensi risiko penderita DM. Internist Endokrinologi RSUP dr Sardjito, dr Bowo Pramono SpPD KEMD membenarkan peningkatan penderita DM dalam satu dasawarsa terakhir.

Jika dirata-rata, untuk sehari saja pihaknya bisa menangani 50-100 pasien DM, baik itu rawat jalan atau opname. Sedangkan untuk pasien DM yang mengalami penyempitan pembuluh darah di bagian kaki, Bowo menyatakan, pihaknya bisa menangani rerata 15 pasien per hari.

Para pasien ini lah yang kerap berujung pada amputasi bagian kaki karena komplikasi DM. Pengajar FK UGM ini menguraikan jika penyakit dan akibat dari DM sangat berbahaya. Karena pada umumnya penderita DM ringan tidak mengeluhkan sakit pada bagian tubuh tertentu.

Namun jika tidak terkontrol dalam pola makan menyebabkan penyakit semakin akut. "DM punya penanganan khusus. Makanya kami latih dokter-dokter di Puskesmas cara menangani (DM) yang benar," kata Bowo, di ruang kerjanya pekan lalu.

Terdapat tiga komponen utama dalam mencegah peningkatan penderita DM. Pertama adalah pendekatan primer, yakni upaya mencegah orang berisiko jangan sampai terkena DM. Sekunder, penderita DM jangan sampai terkena komplikasi.

Tersier, penderita DM komplikasi jangan sampai cacat/meninggal dunia. Dipaparkan Bowo, berbagai kompilikasi penyakit bisa menjangkiti penderita DM. Semisal gagal ginjal, jantung, stroke, penyempitan pembuluh darah dan sebagainya.

Kesadaran masyarakat mengenai bahayanya penyakit ini pun belum sepenuhnya terbangun. "Kita harus aware. Karena masih ada yang beranggapan DM penyakit biasa," imbuh konsultan DM ini. (Tribunjogja.com)

Penulis: hdy
Editor: dik
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved