Gunung Slamet Siaga
35 Desa Terancam Dampak Letusan Gunung Slamet
Gunung Slamet terhitung 29 April meningkat statusnya dari Waspada menjadi Siaga.
Laporan Tribun Jateng, Fajar Eko Nugraha
TRIBUNJOGJA.COM, BANYUMAS - Gunung Slamet terhitung 29 April meningkat statusnya dari Waspada menjadi Siaga. Rabu (30/4) Pemkab Banyumas bersama BPBD langsung menggelar rapat mendadak membahas hal tersebut.
Kepala BPBD Banyumas Prasetyo Budi Widodo mengatakan, sesuai dengan apa yang direkomendasikan Kepala BNPB usai menerima laporan dari PVMBG terkait peningkatan status Siaga Gunung Slamet, pihaknya sudah langsung bergerak cepat untuk merumuskan langkah selanjutnya.
"Kami sudah mendapat info dan rekomendasi untuk segera berkoordinasi dengan pihak terkait. Siang ini kita masih akan rapatkan dahulu dengan Pemkab Banyumas, Kodim 0701 Banyumas dan pihak lainnya," ujarnya Rabu (30/4).
Rakor tersebut bertujuan, untuk menyempurnakan rencana kontijensi, untuk kemudian bisa disempurnakan dan segera disosialisasikan kepada masyarakat.
"Kita akan lakukan pendataan ulang logistik, kebutuhan darurat lainnya hingga pengecekan jumlah penduduk di zona rawan terdampak," ungkapnya.
Berdasarkan pendataan yang sudah dilakukan, secara umum terdapat 35 desa dari 7 kecamatan di Kabupaten Banyumas yang mungkin terdampak erupsi. Kemudian perhatian difokuskan setidaknya pada 7 desa di 3 kecamatan yang paling rawan terkena erupsi Gunung Slamet. Yaitu Desa Melung, Kecamatan Kedungbanteng, Ketenger, Karangmangu, Kemutug Lor, dan Karangsalam, Baturraden, serta Limpakuwus dan Gandatapa, kecamatan Sumbang.
"Dengan peningkatan status ini, radius bahaya yang direkomendasikan 4 kilometer. Sejauh ini pemukiman warga kita masih berada di zona aman, karena desa terdekat berjarak sekitar 8 kilometer," paparnya. (*)
Skandal Kuliner Terkait
Disegel, Bakpia Tidak Asli Jadi Buronan di Malaysia