Megaproyek Bandara Kulonprogo

Penetapan Lokasi Bandara Kulonprogo Masih Mengambang

Penetapan lokasi megaproyek bandara internasional di Kulonprogo hingga saat ini masih mengambang

Tayang:
Penulis: esa | Editor: Rina Eviana Dewi

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Penetapan lokasi megaproyek bandara internasional di Kulonprogo hingga saat ini masih mengambang. PT Angkasa Pura selaku pemrakarsa bandara harus menyediakan anggaran lebih besar jika harus menggeser lokasi proyek bandara ke arah barat mendekati sungai Bogowonto.

"Kalau digeser ke barat, ongkos pembangunannya lebih mahal. Sebab, lampu dan infrastruktur penunjangnya harus dibangun di atas sungai. Butuh teknologi khusus," papar anggota Tim Percepatan Pembangunan Bandara Internasional Kulonprogo, Tavip Agus Rayanto dijumpai di Gedung DPRD DIY, Senin (17/3/2014).

Sesuai pemaparan PT Angkasa Pura saat bertemu Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X pekan lalu, jika bandara harus mundur 500 meter ke barat sesuai permintaan PT Jogja Magasa Iron (JMI), maka beberapa insfratruktur bandara terpaksa dibangun di muara Sungai Bogowonto yang berbatasan langsung dengan lokasi bandara.

Bandara perlu memasang lampu sesuai jarak ideal keselamatan penerbangan yakni 900 hingga 1200 meter dari Runway and Safety Area (RESA). Jika demikian, maka lampu harus ditempatkan di badan sungai yang lebarnya mencapai 300 meter itu.

Padahal untuk memasang lampu menerabas kawasan Sungai Bogowonto, dibutuhkan izin dari Kementerian Pekerjaan Umum RI serta izin dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Serayu Opak. Itupun, dibutuhkan teknologi khusus yang memungkinkan dibangunkan infrastruktur teknis bandara tersebut. "Ongkosnya lebih mahal," tandasnya.

Sementara itu, menurut Tavip, PT JMI selaku pemrakarsa proyek pabrik pengolahan pasir besi juga kesulitan jika harus memindahkan lokasinya lebih jauh. "Lokasi pabriknya juga susah digeser karena distribusi dan penambangan pasir besinya kan juga tidak mungkin digeser. Masing-masing (PT Angkasa Pura dan PT JMI) punya perhitungan teknis dan ekonomi sendiri-sendiri," imbuh Tavip.

Sejauh ini, PT JMI baru menyampaikan secara lisan, kesediaannya untuk memundurkan lokasi pabrik ke timur hingga menciptakan jarak setidaknya tiga kilometer dengan bandara. Namun, PT JMI juga meminta agar bandara juga mau memundurkan lokasinya 500 meter ke barat.

Karenanya, hingga saat ini, Gubernur DIY masih mencoba menengahi kepentingan dua pemrakarsa megaproyek di Kulonprogo itu hingga tercipta kesepakatan resmi (MoU) antara keduanya. Gubernur sudah mencoba berdiskusi dan mendengarkan pemaparan dari PT Angkasa Pura pekan lalu. Berikutnya, Gubernur akan bertemu dengan PT JMI. Namun, Tavip belum tahu kapan pertemuan itu akan digelar. Jika sudah ada pertemuan dengan kedua belah pihak, Gubernur akan merumuskan jalan tengahnya.(esa)

Skandal Kuliner Terkait :

Bakpia Tidak Asli Merajalela di 7 Titik Penting di Yogya

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved