Gunung Kelud Bergejolak
Warga Lereng Kelud Tetap Berkebun
Warga lereng Gunung Kelud, khususnya di Blitar, tak terpengaruh dengan kenaikan status gunung api berketinggian 1,731 DPL
TRIBUNJOGJA.COM, BLITAR - Warga lereng Gunung Kelud, khususnya yang berada di wilayah Blitar, sepertinya tak terpengaruh dengan kenaikan status gunung api berketinggian 1,731 dibawah permukaan laut (DPL) tersebut. Meski telah terjadi gempa berkali-kali namun warga tetap tenang.
Bahkan, Senin (3/2/2014) siang, belum ada tanda-tanda, mereka akan mengungsi. Malah, mereka tetap pergi ke ladang dan melakukan aktivitas rutin seperti biasanya. Dari wajah mereka tak terlihat ada ketakutan. Untuk warga yang tinggal di lereng Gunung Kelud sebelah timur atau masuk wilayah Blitar, ada empat desa. Yakni, Desa Sumberasri, Desa Kedawung, Desa Modangan, dan Desa Penataran, semuanya masuk wilayah Kecamatan Nglegok, Kab Blitar. Dari empat desa itu, yang berpotensi terkena imbas langsung Gunung Kelud adalah Desa Sumberasri karena hanya berjarak sekitar 5 km dari puncak gunung tersebut. Itu dihuni 3.313 kepala keluarga (KK).
Namun hingga kini, warganya masih melakukan aktivitas seperti biasa. Untuk anak-anak, tetap berangkat sekolah, dan ibu-ibu terlihat pulang dari pasar. "Warga masih tenang dan belum ada kepanikan. Hanya saja, mulai nanti malam kami akan mengaktifkan berjaga. Supaya bila terjadi sesuatu terkait perkembangan Gunung Kelud, warga segera tahu dan bertindak cepat," kata Hendro Busono, Kades Sumberasri, Senin (3/2/2014).
Terkait perkembangan Gunung Kelud itu, menurut Hendro, justru yang panik orang lain atau orang yang jauh dari lokasi. Untuk warganya, tak ada masalah apalagi kepanikan. Mereka tetap bekerja seperti biasa di kebun. Itu karena warga sudah berpengalaman dengan kejadian meletusnya Gunung Kelud yang sudah berulangkali. Yakni, mulai tahun 1966, 1990, dan yang terakhir tahun 2007 lalu. Namun, pada 2007 itu tak meletus dan hanya melahirkan gunung kecil di sebelahnya atau disebut Gunung Anakan. "Warga sudah paham kalau seandainya gunung itu mau meletus. Dengan kejadian beberapa kali itu, warga bisa mengenali tanda-tandanya. Misalnya, kalau akan meletus, pasti ditandai hewan-hewan mulai turun dan masuk ke perkampungan, bahkan panasnya terasa luar biasa. Namun, sampai ini belum ada tanda-tanda seperti itu," ujarnya.
Siswanto (55), warga Dusun Gambaranyar, Desa Sumberanyar, Kecamatan Nglegok, mengaku dirinya dan warga lainnya tak ada reaksi apa-apa. "Kalau mau meletus, kami pasti merasakan tanda-tanda yang aneh. Namun, karena belum ada tanda-tanda yang kami kenali, maka kami dan warga lainnya tetap santai dulu," ujarnya.
Berbeda dengan Yolanda (40), warga Dusun Gambaranyar ini. Meski ia masih santai di rumah namun sudah mengemasi barang-barangnya. Alasannya, bila terjadi sesuatu yang tak diingin atas gunung api itu, dirinya sudah siap. "Hanya siap-siap saja bila terjadi sesuatu, kami nggak panik lagi dan tinggal pergi," ujarnya.
Heru Irawan, Kepala BPBD Kabupaten Blitar, menghimbau pada warga yang tinggal di lereng Gunung Kelud agar waspada. Namun, tak usah panik meski status Gunung Kelud itu sekarang jadi waspada. "Kenapa kok waspada? Sebab, Minggu (2/2/2014) sore kemarin, telah terjadi gempa sebanyak 111 kali. Dan, itu diikuti hawa panas, dari kondisi normal 50 derajad celcius naik jadi 56 derajad celcius. Kami juga belum melakukan tindakan apa-apa terkait masalah ini," ungkapnya.
Letkol Art Tejo Widuro, Dandim 0808 Blitar mengatakan, pihaknya sudah menyiapkan segala peralatan yang akan dibutuhkan warga jika terjadi letusan gunung tersebut. Seperti, tenda pengungsian dan dapur umum dengan sekalian personil Kodimnya.
"Kamu juga sudah menghimbau pada para babinsa di Kecamatan Nglegok, agar selalu berkoordinasi pada masyarakat. Jika terjadi sesuatu, pihaknya sudah siap membantunya," paparnya. (*)