Fashion Show
PAPMI Fashion School Tampilkan Kebaya Hingga Hijab Modern
desainer Ayu Sita Wahyuning Wulan mencoba keluar dari konstruksi kebaya konvensional.
Penulis: tea | Editor: tea
Laporan Reporter Tribun Jogja, Theresia T. Andayani
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Terinspirasi dari kebaya yang sudah menjadi bagian tren fashion perempuan, desainer Ayu Sita Wahyuning Wulan mencoba keluar dari konstruksi kebaya konvensional.
Jika biasanya kebaya selalu berpadu dengan batik, dengan rancangan Ayu yang bertajuk Summer Bright memberikan nuansa beda bergaya western. Pada rancangannya yang dikeluarkan awal tahun ini, desainer lulusan LPK PAPMI DIY ini menampilkan koleksi gaun kebaya. Dengan mempertahankan garis potongan kebaya namun dalam bentuk gaun.
”Saya coba tampilkan kebaya tanpa jarik atau kain batik. Tapi dalam tampilan gaun dengan permainan garis A-line, mermaid dan rok kerut sebagai bawahan,” ujar pemilik Princes Sita Fashion Studio ini.
Kebaya ini memberikan kesan sexy, dirinya bermain dengan potongan backless. Menyeimbangkan bagian atas yang sudah ramai brokat dan terkesan glamour, pada bagian bawah rancangan dibuat simpel.
Desainer Pratiwi Dananjaya tergerak untuk merancang busana berjudul Revolusion Go Green, dalam Annual Show Papmi. Pratiwi mencoba menghadirkan koleksi yang terinspirasi dari rasa keprihatinan terhadap kondisi alam. Ia mendesain baju dengan bahan prosesing batik non chemical yang simpel, eye catching dan siap pakai. Dengan warna-warna alam dari kayu-kayuan dan dedaunan.
"Baju yang aku buat terdiri dari atasan dan bawahan, dress terusan, atasan dan celana pendek. Ada juga atasan model kebaya dan rok pendek serta atasan dan celana selutut, semuanya 8 outfit," ujar pemilik Risto House di Jl Nologaten ini.
Masih dalam Annual Show PAPMI Fashion School 2014, Desainer Tri Estiyani menampilkan koleksi berjudul Flower Origami, yang mengacu pada Trend Fashion 2014 Sagacity. Ia menghadirkan budaya Timur dalam kemewahan yang monumental yang di tampilkan pada busana casual yg elegan.
"Ide desainnya terinspirasi dari busana tradisional Korea, Hanbook, dengan pemakaian tekstil tradisional seperti tenun, lurik dan batik, dengan kombinasi sifon sutera, silk, memberikan garis desain yg unik," ujar Estiyani.
Kesan unik itu didapat dengan menambahkan efek lipit serta origami tekstil. Warna tekstil cenderung warna bronze, warna natural clean dengan unsur alam dan batuan. Disain busana yg menampilkan garis a-line ini berkesan longgar, ringan dan berunsur transparan.
"Busana yang saya rancang terdiri dari atasan semi blazer pendek, dengan krah model shanghai modifikasi yang lebar, rok maupun kulot yang terinspirasi dari celana samurai," kata pemilik brand Kirana by Esti ini.
Terinspirasi dari kebaya yang sudah menjadi bagian tren fashion perempuan, desainer Ayu Desainer Evis Kusuma Arum juga memukau dengan tema Big Is Beautiful. Dimana ia merancang busana untuk wanita muda aktif modis dan dinamis yang memiliki ukuran tubuh diatas rata-rata. Warna-warna cerah dalam tren demotic yang lembut dan memberi kesan energik dapat meningkatkan percaya diri si pemakai.
"Potongan dan teknik modifikasi pakaian diimbangi dengan pemilihan bahan dan warna yang seimbang, modis, bergaya di tengah aktivitasnya yang padat, memberi kesan bahwa gemuk tidak selamanya buruk, big is beautiful," ucapnya.
Sementara, Desainer Dharyatun mengambil tema Mensucikan diri yang terinspirasi dari upacara adat Mitoni. Ia menampilkan busana kebaya, Bolero, Ball gown dari bahan organdi, sifon, tile dan brokat.
Berbeda dengan Dewi Niki Anisa melalui brand
Denisa by Dewiniki ini menampilkan busana muslim dengan tema Joirytale with Ethnic. Berbagai macam model pakaian, hijab dan mixmatch keseluruhan penampilan ini disesuaikan dengan tema transkultural.
"Tema ini terinspirasi dari kisah dongeng peri pada zaman dahulu dengan memberikan sentuhan modern berupa busana muslim seperti pants, blazer, skirt, dan blouse," ujarnya. (tea).