Jembatan Darurat yang Putus Hasil Swadaya Warga
Apalagi, setiap hari sekitar 500-an warga menggunakan akses jembatan darurat tersebut.
Penulis: Agung Ismiyanto | Editor: Ikrob Didik Irawan
Laporan Reporter Tribun Jogja, Agung Ismiyanto
‪TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Kepala Seksi (Kasi) Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Pemerintah Desa Ngrajek, Abdul Bahri mengatakan, jembatan darurat yang ambrol tersebut merupakan hasil swadaya warga Dusun Menayu dan Dusun Ngemplak. Jembatan tersebut, kata dia, bukan merupakan proyek dari Pemerintah Desa.
“Namun, sudah ada usulan kepada Pemkab di tahun 2014 untuk pembangunan jembatan permanen. Hanya kepastian pembangunannya kapan, kami belum tahu,” jelasnya, Rabu (15/1/2014).
Dia mengatakan, pembangunan akses jembatan permanen memang dibutuhkan masyarakat, lantaran di tahun ke depan Desa Ngrajek akan menjadi wisata Minapolitan, sementara Dusun Menayu akan menjadi Mina Wisata. Apalagi, setiap hari sekitar 500-an warga menggunakan akses jembatan darurat tersebut.
Sejumlah warga terpaksa harus memutar lebih dari lima kilometer, setelah jembatan darurat penghubung antar Desa Adikarto, Kecamatan Muntilan dan Desa Ngrajek, Kecamatan Mungkid, ambrol dan terputus. Ambrolnya jembatan darurat yang menjadi akses alternatif sejumlah kendaraan dan ratusan warga ini, dipicu banjir lahar hujan yang melanda alur sungai Pabelan, Senin (13/1/2014) lalu.
Adam (29), warga Dusun Menayu, Desa Adikarto, Kecamatan Muntilan mengatakan, bagi sejumlah warga di dua desa tersebut, jembatan darurat tersebut merupakan jalan alternatif sekaligus terpendek yang menghubungkan Muntilan-Mendut-Borobudur. Praktis, dengan terputusnya jembatan sepanjang enam meter dan lebar empat meter ini, kendaraan roda empat tidak bisa melintas dan harus memutar. (Tribunjogja.com).