Waduk Cengklik Tetap Jadi Pilihan Bocah Habiskan Liburan
Pascainsiden tiga bocah yang tewas tenggelam, Waduk Cengklik tetap menjadi pilihan bermain bagi anak-anak.
Penulis: Ikrob Didik Irawan | Editor: Ikrob Didik Irawan
Laporan Reporter Tribun Jogja, Ikrob Didik Irawan
TRIBUNJOGJA.COM, SOLO - Beberapa hari pascainsiden tiga bocah yang tewas tenggelam, Waduk Cengklik tetap menjadi pilihan bermain bagi anak-anak.
Apalagi di musim libur sekolah saat ini, waduk yang terletak di sebelah barat bandara Adi Soemarmo itu menjadi lokasi memancing favorit bagi para bocah.
Keramaian Waduk yang terkenal banyak terdapat ikan itu sudah mulai terasa sejak pagi. Para bocah yang datang naik sepeda onthel sambil menenteng kail berdatangan untuk memulai liburan. Mereka ikut berbaur dengan warga sekitar yang menjadi nelayan maupun para pemancing dewas lain.
Minggu (29/12/2013) pagi, Purwadi terlihat datang bersama dua orang temannya. Mereka semua berasal dari kampung sebelah yang jaraknya sekitar 4 kilometer dari waduk yang terletak di Desa Ngargorejo, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali ini.
Sepeda federal yang dikendarai oleh bocah 11 tahun itu dibawa hingga ke tepian waduk. "Libur begini enaknya mancing. Lumayan, kalau dapat ikan bisa digoreng buat lauk makan," kata siswa kelas II MTSN 1 Ngemplak ini sambil menyiapkan umpan berupa lumut.
Cerita soal tiga bocah yang tewas tenggelam saat bermain di waduk lokasi wisata itu tak membuat nyalinya ciut. Tanpa rasa takut, bocah yang akrab disapa Pur itu mulai perlahan menceburkan kaki ke waduk.
Dua temannya yakni Suryanto dan Setiawan juga mengikuti dari belakang. Mereka berjalan pelan menuju ke arah tengah. "Kalau mancingnya tidak sambil nyebur, sudah dapat ikannya," kata Pur memberikan alasan.
Dan benar saja, baru beberapa menit dilemparkan, umpan milik Suryanto (10) langsung disambar ikan. Satu kali tarikan, seekor ikan mujair seukuran tiga jari orang dewasa berhasil diangkat dari air.
Tak lama kemudian giliran umpan Setiawan (11) yang disambar ikan. "Iwake luwe tenanan iki (ikannya lapar betulan ini)," teriak Suryanto, siswa kelas 1 MTS ini.
Ketiganya terlihat asyik dengan pancing masing-masing. Saat asyik itu, mereka diingatkan oleh seorang nelayan agar tak terlalu ke tengah waduk saat memancing.
"Ora mas, aku yo gak wani neng tengah. Wedhi kelelep (aku juga tidak berani ke tengah, takut tenggelam," kata Pur.
Tak hanya ketiga sekawan itu, sejumlah bocah lainnya terlihat banyak memancing di tepian waduk. "Berangkatnya (memancing) pagi, trus pulang sore. Libur dua minggu ini sepertinya akan diisi memancing karena tidak ada kegiatan lain," kata Danuri, bocah lainnya yang memancing dekat deretan rakit bambu.
Nuryanto, warga setempat yang menjadi nelayan mengatakan, para bocah itu kadang nakal karena pergi ke tengah waduk naik rakit. Agar kejadian tenggelamnya tiga bocah tak terulang, warga selalu memarahi para bocah bila coba-coba ke tengah waduk. "Ya langsung kita teriaki. Saya suruh mancing di pinggir saja," katanya.
Waduk Cengklik menjadi salah satu tujuan warga Solo dan sekitarnya untuk mencari angin segar saat pagi atau sore. Selain lokasi memancing, warga memanfaatkannya untuk berolahraga, berfoto ria, atau sekedar jalan-jalan melihat pemandangan.
Saat ini, juga sudah tersedia fasilitas baru yakni perahu wisata yang bisa mengantar warga keliling ke tengah waduk. (*)