Di Yogya, Harga Elpiji 12 Kilogram Tembus Rp 90 Ribu

Harga elpiji 12 kilogram di wilayah Yogyakarta merangkak naik dalam beberapa hari belakangan

Penulis: Rina Eviana Dewi | Editor: Mona Kriesdinar

Laporan Reporter Tribun Jogja, Rina Eviana Dewi

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Harga elpiji 12 kilogram di wilayah Yogyakarta merangkak naik dalam beberapa hari belakangan. Bahkan harga elpiji 12 kilogram di tingkat pengecer tembus Rp 90 ribu per tabung.

Pantauan Tribun Jogja pada Rabu (4/12/2013) malam harga jual elpiji ini di salah satu pengecer di wilayah Deresan Gejayan dijual seharga Rp 88 ribu per tabung. Kenaikan elpiji ini pun mengagetkan konsumen. "Terakhir saya beli seminggu lalu masih Rp 80 ribu. Kok sudah naik lagi," keluh Tanti, pembeli tabung elpiji 12 kilogram di kios tersebut.

Di pengecer lain, Kamis (5/12/2013) kemarin, harga elpiji 12 kilogram ini bahkan ada yang dijual Rp 90 ribu per tabung. Eko, salah satu pengecer elpiji di kawasan Gejayan menyebut, beberapa hari kemarin, ia masih menjual elpiji seharga Rp 82 ribu per tabung. "Kamis ini harga jualnya naik jadi Rp 90 ribu per tabung. Kemarin bisa jual, sekarang mau beli di agen susah karena harga belinya juga lebih tinggi dari harga jualan kemarin," keluhnya.

Kenaikan harga jual elpiji non-subsidi ini, di tingkat agen ternyata sudah naik per 1 Desember kemarin. Emy, dari Agen Elpiji Karya Pelita Abadi Pakualaman, ketika dikonfirmasi membenarkan sesuai kesepakatan agen di seluruh DIY dan Pertamina, harga elpiji 12 kilogram naik. "Kesepakatannya dari sebelumnya Rp 75 ribu per 1 Desember harga di agen jadi Rp 81 ribu," jelas Emy.

Diakuinya, pada awal harga baru diterapkan, banyak konsumennya yang mengeluhkan kenaikan tersebut. "Awalnya masyarakat pada enggak terima dengan keputusan ini. Lama-lama terbiasa," ujarnya.

Meski harga naik, ketersediaan elpiji 12 kilogram masih aman. Di Agen Elpiji Karya Pelita Abadi, kata Emy, tiap hari mendapat alokasi 600 tabung per hari. Konsumen elpiji ukuran ini kata dia, paling banyak dari kalangan ibu rumah tangga.

Dikonfirmasi terpisah, Assistant Manager External Relations Pertamina Jateng dan DIY Robert Marchelino Verieza Dumatubun menjelaskan kenaikan terjadi karena Pertamina melakukan perluasan perubahan pola distribusi elpiji mulai 1 Desember 2013.

Perubahan itu, lanjut robert dari pola Stasiun Pengisian dan Pengangkutan Bulk Elpiji (SPPBE) menjadi pola Stasiun Pengisian dan Pengangkutan Elpiji Khusus (SPPEK) untuk Jawa-Bali. Dengan penerapan pola SPPEK, Pertamina melepas subsidi kepada konsumen untuk biaya distribusi elpiji. Namun demikian harga produk elpiji sendiri masih disubsidi oleh Pertamina. "Dengan pola SPPEK ini akan berbeda-beda sesuai dengan jarak ke titik pasokannya," jelas Robert.

Penerapan pola baru ini harga jual elpiji 12 kilogram di Jawa-Bali per 1 Desember pun disesuaikan dari semula Rp 70.200 per tabung menjadi antara Rp 74.700 per tabung sampai Rp 78.600 per tabung. "Kenaikan antara Rp 4.500-Rp 8.400 per tabung tergantung jauh dekatnya SPPBE dengan titik pasokannya," beber Robert.

Penerapan pola distribusi baru ini, kata dia, juga telah berhasil dilaksanakan di Kepulauan Riau, Kalimantan dan Sulawesi pada 15 Mei 2013 dan di daerah Sumatera pada 7 Oktober kemarin.

Masih kata Robert, penyesuaian harga jual ini diperkirakan tidak akan memberatkan masyarakat pengguna elpiji 12 kilogram karena nilainya tidak terlalu besar. "Pengguna elpiji 12 kilo juga rumah tangga dengan pendapatan menengah ke atas," tukasnya.

Dari harga jual saat ini, ia menuturkan penerimaan bersih Pertamina hanya Rp 4.912 per kilogram (setelah dipotong pajak dan margin agen). Sedangkan harga pokok perolehan (HPP) LPG di 2013 sebelum pajak mencapai Rp 10.010 per kilogram. Dengan pola baru ini diharapkan dapat mengurangi kerugian yang dialami Pertamina dari penjualan elpiji 12 kilogram. (evn)

Tags
elpiji
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved