Breaking News:

Hindra Setya Rini Hasilkan Koteklema dan Ksatria Laut Lamalera

Satu diantara peraih Hibah KARYA! 2013 adalah Hindra Setya Rini.

Hindra Setya Rini Hasilkan Koteklema dan Ksatria Laut Lamalera
Tribun Jogja/Riezky Andhika P
Hindra Setya Rini

Laporan Reporter Tribun Jogja, Riezky Andhika Pradana

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Satu diantara peraih Hibah KARYA! 2013 adalah Hindra Setya Rini. Pada September 2013 lalu, Hindra telah mewujudkan proyeknya yang bertajuk “Koteklema dan Ksatria Laut Lamalera”.

Hasil dari proyek tersebut adalah pementasan teater keliling selama empat hari berturut-turut pada 24-27 September 2013.

Pementasan teater itu digelar di Museum NTT, SMKN 1 Kupang, SMAK Giovanni Kupang, dan SMAN 3 Kupang. Pada pementasannya tampil para siswa gabungan empat sekolah bersama seniman Aceh PM Toh. Sebelum pementasan, siswa-siswi ini mengikuti workshop dan proses penciptaan karya yang difasilitasi oleh Hindra.

Program Hibah KARYA! 2013 ini diinisiasi oleh Jaringan Arsip Budaya Nusantara. Jaringan ini terdiri atas lembaga-lembaga arsip di seluruh Indonesia. Sedangkan proyek “Koteklema dan Ksatria Laut Lamalera” ini menggunakan arsip dari Museum Daerah Nusa Tenggara Timur.

Usai menyelesaikan “Koteklema dan Ksatria Laut Lamalera”, seniman kelahiran Jambi, 17 April 1982 ini berinisiatif berbagi cerita tentang proyeknya dan proses dalam berkarya dalam public sharing Rabu, (27/11/2013), di Rumah IVAA, Jln Ireda, Gang Hiperkes, Dipowinatan MGI/188AB, Keparakan, Yogyakarta.

Sudah lama Hindra ingin berkarya di Indonesia Timur, terutama setelah banyak berbincang dengan PM Toh dan Rifqi Mansur Mansur Maya.

Selain itu ia memandang bahwa museum menarik buat dikunjungi dan 'menghidup'kan arsipnya dalam seni pertunjukan. Ketika mendengar ada Hibah KARYA!, ia mengajukan proposal dengan memilih lembaga yang ada di Indonesia Timur.

Cerita yang diangkat pada karyanya adalah tentang penangkapan paus yang merupakan tradisi dari Lamalera. Ritual penangkapan paus dilakukan setiap 1 Mei dengan upacara khusus. Bagi masyarakat di sana, ikan paus dipandang sebagai hadiah dari Tuhan.

Mereka percaya bahwa ikan paus tidak akan punah, karena itu mereka menangkapnya. Laut diartikan sebagai ibu yang memberi makanan. Sedangkan seorang lamafa (penangkap paus) dipandang sebagai pahlawan. Tradisi ini bisa punah jika lamafa tidak ada lagi.

"Aku ketemu beberapa orang yang bisa melihat ini dari beberapa sudut pandang. Salah satunya Ignas Kleden," ujar lulusan Sastra Inggris Universitas Sanata Dharma Yogyakarta ini. (*)

Penulis: rap
Editor: Ikrob Didik Irawan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved