Aksi Mogok Dokter

Tangis Mbah Suwarni Pecah Saat Mendapati 15 Poli di RSUD Tutup

Banyak pasien di RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo, Kota Mojokerto, yang kecewa sepanjang hari Rabu ini.

Tangis Mbah Suwarni Pecah Saat Mendapati 15 Poli di RSUD Tutup
TRIBUNNEWS/HERUDIN
Ribuan dokter berunjuk rasa di sekitar bundaran HI, Jakarta Pusat menuntut dihentikannya kriminalisasi terhadap tiga dokter di Manado, Rabu (27/11/2013). Mereka mengajak masyarakat untuk mulai berpikir kritis dan objektif mengenai pelayanan kesehatan yang diberikan dokter termasuk menyadari tentang adanya risiko yang mungkin terjadi atas tindakan medis yang dilakukan. 

Laporan Wartawan Surya Nuraini Faiq

TRIBUNJOGJA.COM, MOJOKERTO - Mbah Suwarni hanya bisa menangis saat menghadapi kenyataan seluruh poli di RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo, Kota Mojokerto tutup, Rabu (27/11/2013).

"Saya mau periksakan jantung saya. Tapi semua kok tutup di dalam RS. Saya sedih nak," ucap Suwarni, yang berjalan dipandu putrinya sambil menangis.

Namun, Mbah Suwarni yang sudah renta ini tak sendiri meratapi nasib. Banyak pasien di RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo, Kota Mojokerto, yang kecewa sepanjang hari Rabu ini.

Pasalnya, pelayanan kesehatan di rumah sakit milik Pemkot Mojokerto itu tutup total. Mereka tak melayani pasien baru, rawat jalan, dan menutup seluruh poli pelayanan yang ada. Ada 15 poli mulai poli jantung sampai poli THT juga tutup.

"Kecuali pasien lama yang sudah kita rawat inap tetap dilayani. Tapi untuk pasien baru dengan penuh penyesalan memang kita tak layani. Seluruh poli kami tutup," kata Dr Sugeng Mulyadi SpU, Wakil Direktur RSUD Kota Mojokerto.

Semula, kata dia, rencananya hanya pelayanan pelayanan kandungan yang sementara tak memberi palayanan. Namun, di RS tersebut banyak dokter-dokter yang lain juga ingin menunjukkan solidaritas mereka.

Akibatnya, banyak pasien kecele karena seluruh pelayanan kesehatan ditutup. Bahkan, di pintu masuk satpam RS sudah mencegat setiap calon pasien.

Tapi, Mbah Suwarni yang berusia 63 tahun ini berhasil masuk. Memang, nenek yang ditemani putrinya itu masuk ke Poli sebelum pukul 08.00. Sementara, pintu masuk RS dijaga satpam setelah pukul 08.00.

Deretan layanan di 15 Poli memang tutup total. Padahal biasanya, seluruh kursi tunggu dan ruangan pelayanan poli ini selalu sesak. Dengan tetap dipandu putrinya, nenek asal Prajurit Kulon ini akkhirnya hanya melintas.

"Mbok ya tidak usah demo. Simbah iki mung pengen nyuwun pil supaya tidak gemetar," ucapnya.

Sementara itu di pintu UGD, banyak pasien yang juga terpaksa balik kanan. Di antaranya Sukadi (39), warga Desa Kejagan, Kecamatan Trowulan, Mojokerto yang hendak operasi bedah setelah mengalami kecelakaan.

"Kami hanya diminta kembali besok sama petugas karena RS tutup," kata Sukadi dengan suara bergetar.

Begitu juga banyak warga yang menggerutu karena pintu masuk sudah dicegat satpam kalau hari ini tak bisa dilayani. Dr Yusuf Nawir SpOG, mantan Ketua IDI Mojokerto menyatakan bahwa kondisi saat ini para dokter menjadi ragu menangani pasien.

"Maunya menolong, tapi ada bayangan dikriminalisasi sehingga tak maksimal. Nanti kalau ada apa-apa ya kita rujuk saja terus biar aman. Kami bukan malaikat. Dokter silakan dihukum asal memang melanggar hukum," katanya.(*)

Editor: mon
Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved