Breaking News:

PHRI Catat Ada 1.160 Hotel di Yogyakarta

Persaingan industri perhotelan di wilayah Yogyakarta semakin ketat seiring munculnya hotel-hotel baru

PHRI Catat Ada 1.160 Hotel di Yogyakarta
SHUTTERSTOCK
Ilustrasi.

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Persaingan industri perhotelan di wilayah Yogyakarta semakin ketat seiring munculnya hotel-hotel baru. Hotel non-bintang paling terdampak pembangunan hotel baru tersebut. Mengantisipasi penurunan okupansi, hotel kelas Melati didorong menerapkan pemasaran secara elektronik atau electronic commerce dalam pemasarannya.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY, Istidjab M Danunegoro, mengatakan, hingga saat ini jumlah hotel di wilayah Yogyakarta tercatat sebanyak 1.160 hotel. Sebanyak 60 di antaranya merupakan hotel bintang dengan 6.000-an kamar dan 1.100 hotel lainnya merupakan hotel kelas Melati dengan 12.660 kamar.

Istidjab mengatakan, pada tahun ini saja terdapat 12 hotel yang baru beroperasi dan 30 lainnya sudah keluar izin pendiriannya. "Dengan munculnya hotel-hotel baru ini yang paling terdampak hotel melati. Kami khawatir okupansi rata-rata hotel kelas ini tahun depan tersisa 5 persen saja," ujar Istidjab, Rabu (30/10/2013).

Menurutnya, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) DIY, pada Januari-Agustus 2013 ini rata-rata okupansi hotel berbintang sebesar 54,98 persen. Sementara okupansi hotel kelas melati hanya 29,14 %.

Sedangkan turis asing yang menginap di hotel bintang periode itu sebanyak 98.071 orang dan wisatawan domestik 696,762. Adapun jumlah tamu menginap di hotel melati terdiri dari 24.134 wisatawan asing dan 1.484.376 tamu wisatawan nusantara."Kalau tidak disiasati, okupansi hotel melati akan terus merosot," ucapnya.

Agar bertahan ditengah gempuran hotel-hotel baru di Yogyakarta, hotel melati perlu melakukan strategi pemasaran, di antaranya memanfaatkan e-commerce. Pemasaran secara online akan membantu mendongkrak okupansi.

"Sayangnya saat ini hotel-hotel kelas melati banyak yang masih melakukan pemasaran secara konvensional. Mereka cenderung menunggu tamu datang," imbuhnya.

Dikatakan Istidjab, wisman backpacker sebenarnya suka menginap di hotel melati. "Jika dipasarkan online ini tentu akan membantu pemasaran hotel melati," tegasnya.

dia mencontohkan, hotel melati yang telah menerapkan e-commerce adalah Hotel 1001 Malam di kompleks Jalan Pasar Kembang. Hotel 16 kamar ini bisa mencapai okupansi rata-rata 70-75 persen. "Padahal lokasinya tidak di pinggir jalan besar. Mereka menerapkan e-commerce," ucapnya.

Jadi Incaran Investor

Menurut Ketua PHRI DIY, Istidjab M Danunegoro, bisnis perhotelan di wilayah Yogyakarta memang masih menjadi incaran utama bagi investor.

Lokasi di Kota Yogya khususnya selama ini masih menjadi primadona investor mendirikan hotel, terutama di ring satu yang prospeknya masih besar. Wilayah lain yang masih menjadi target pendirian hotel katanya wilayah Sleman yang berbatasan dengan kota.

Peneliti Senior Bank Indonesia Djoko Raharto mengatakan, pertumbuhan hotel di Yogyakarta memang pesat, namun harus diimbangi kebijakan lain yang mendukungnya.

"Infrastruktur pendukungnya harus juga cath up, seperti bandara, jalan, tempat parkir, dan lainnya. Kalau tidak, bisa menjadi bumerang bagi usaha perhotelan," ucap Djoko.

Menurut Djoko, infrastruktur pendukung tersebut harus didorong secepatnya. "Persaingan akan meningkat dengan 'roti' yang relatif tumbuh terbatas, sehingga beberapa hotel dapat tergilas. Perlu studi agar pertumbuhan hotel sesuai dengan kapasitas," tegas Djoko. (evn)

Penulis: Rina Eviana Dewi
Editor: Mona Kriesdinar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved