Pria Ini Membangun Rumah di Atas Bukit Berbatu
Bukit ini terletak di Dusun Bangkel, Desa Srimulyo, Piyungan, Bantul.
Penulis: Yudha Kristiawan | Editor: Ikrob Didik Irawan
Laporan Reporter Tribun Jogja, Yudha Kristiawan
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Bukit tandus, penuh bebatuan, terkenal angker ketika malam tiba, jarang dijamah orang, panas di siang hari, itulah gambaran sebuah bukit bernama Bangkel. Bukit ini terletak di Dusun Bangkel, Desa Srimulyo, Piyungan, Bantul.
Mungkin banyak orang tak akan mau dan bahkan enggan membayangkan tinggal di rumah yang berada di atas bukit seperti ini. Namun, lain bagi Katirin, Perupa kelahiran Banyuwangi, Jawa Timur, 17 September 1968 ini. Pada suatu ketika, di sore hari, mendekati akhir tahun 2005, secara tak sengaja, ia menemukan apa yang telah dicarinya selama beberapa bulan lamanya.
Ya, Katirin tengah mencari sebuah bukit seperti bukit yang oleh penduduk sekitar biasa disebut Gunung Bangkel ini, untuk kemudian mendirikan rumah di atasnya. Imajinasinya ini ternyata sudah lahir sejak semester empat kala ia masih menempuh studi di jurusan Seni Lukis di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.
"Selama kurang lebih tiga bulan , selesai mengantar anak sekolah saya selalu keliling mencari bukit sendirian. Keinginan tersebut sudah lama, sejak dulu ketika masih semester empat, saya sering datang ke bukit-bukit sekitar Candi Boko, Candi Abang di daerah Berbah, dan ingin sekali kelak punya rumah di atas bukit, dan akhirnya menemukan bukit ini," ujar Katirin ditemui di rumahnya yang kini berdiri diatas bukit Bangkel.
Singkat cerita, tak sengaja, atau orang sering menyebut dengan istilah berjodoh atau pulung dalam bahasa jawannya, di suatu sore itu, Katirin berjumpa dengan seorang warga pencari rumput di sekitar bukit dan memberitahukan bahwa bukit seluas kurang lebih 1500 meterpersegi akan dijual pemiliknya.
Segera saja Katirin menindaklanjuti informasi tersebut, dan benar saja, bukit Bangkel yang kini berdiri rumah di atasnya sebagai tempat tinggal nyaman yang dihuni istri dan ketiga anaknya dibeli oleh perupa yang beraliran ekspresionis ini.
Berkunjung ke rumah Katirin menjelang senja tiba, kita akan disuguhi pemandangan yang indah.
Setelah kita masuk melalui jalan kampung beraspal sekitar 800 meter ke arah timur, tepatnya di kilometer 12 jalan Wonosari Yogyakarta, sampailah pada jalan cor blok menanjak sepanjang kurang lebih 300 meter.
Rumah Katirin tepat di puncak bukit menghadap ke arah timur, yang dari atasnya pemandangan menakjubkan bisa kita nikmati. Di sebelah selatan, kita disuguhi hamparan sawah hijau puluhan hektar yang tersorot sinar matahari hingga memunculkan semburat warna kuning. Sementara di sebelah timur, perbukitan yang masuk wilayah Gunungkidul nampak terang oleh sinar sore matahari, membuat pandangan enggan untuk beralih.
Jadi Adem
Tampak depan, dengan halaman berupa tanah yang luas, rumah induk Katirin sudah terkesan vintage. Ornamen kayu pada tiang penyangga dipadu bebatuan putih yang menempel di dinding bangunan serta hijaunya tanaman yang memenuhi teras, membuat kesan perbukitan batu padas yang awalnya gersang pudar, dan berubah menjadi adem.
Sore itu di pekan terakhir bulan September, Katirin meluangkan waktu menemani Tribun melihat-lihat seluruh bagian bangunan rumahnya. Di teras rumah terlihat ayunan kayu tepat berada di depan pintu utama. Di sudut kanan, beberapa kursi kayu model lama diletakkan.
Memasuki bagian dalam, kesan luas nampak, sebab, dalam tata ruangnya, Katirin sengaja meminimalisir batas ruangan yang biasa menggunakan tembok.
Dari ruang utama, atau lazim disebut ruang tamu, dapur dan ruang makan bisa terlihat. Sementara, dua kamar tidur anak, ia memakai gebyok
Ambarawa untuk sekatnya.
"Saya memang ingin rumah ini terlihat lebih luas dengan mengurangi sekat tembok, sehingga akses antar ruang bisa lebih lega. Kalau rumah induk sendiri berukuran kurang lebih 17x9 meter, dengan tiga kamar, dua kamar anak saya di bawah, dan kamar utama di atas," jelasnya.
Melongok ke dapur, Katirin mendesain dindingnya dengan batu padas yang berasal dari sekitar. Disertai sebuah pintu berbentuk kubah, menambah kesan jadul semakin terasa.
"Ini batunya asli dari bukit ini, desain semua saya buat sendiri, ya mengaplikasikan apa yang ada disekitar sini saja. Bekas galian batu untuk dinding ini saya buat kolam ikan," terang Katirin.
Sebuah pintu bergaya jawa kuno menjadi akses menuju halaman belakang. Melewati jalan setapak yang terbuat dari batu, Tribun diajak ke bangunan yang terletak tepat di belakang rumah induk.
Bangunan ke dua ini difungsikannya sebagai studio lukis tempat Katirin membuat karya-karyanya. Bergaya jawa kuno, dengan gebyok khas Kotagede berukuran sekitar 11x6 meter, bangunan ini letaknya lebih tinggi daripada rumah induk.
"Sengaja saya bangun studio ini mengikuti ketinggian tanah, jadinya seperti ini, lebih tinggi dari rumah induk," terang Katirin.
Desain rumah yang dibangun Katirin sengaja tidak banyak mengubah kontur tanah dan cenderung mempertahankan kondisi alam apa adanya. Terbukti, ia justru memanfaatkan tinggi rendah lahan untuk kemudian mengaplikasikan bangunan menurut kontur tersebut.
Bagi Katirin, bukit dengan kontur batuan padas yang utuh ini justru merupakan modal yang begitu pas untuk mendirikan rumah yang digadangnya sejak lama. Ia pun sengaja memilih material lawas untuk mendesain rumah ini, semisal, ventilasi udara ia buat dari bekas tiang kandang kerbau dan untuk ornamen dinding luar dari batu limbah.
Sementara ini, rumah Katirin yang berdiri di perbukitan berketinggian sekita 300 meter ini terdiri dari dua bagian, kedepan ia masih ingin mengembangkannya. (*)