Pendidikan

SMP N 3 Pinoh Selatan Terpaksa Tutup Lantaran Muridnya Hanya Tujuh Orang

Alasan penutupan tersebut karena jumlah siswanya terlalu sedikit sehingga tidak sesuai dengan biaya operasional

Editor: Mona Kriesdinar
TRIBUNJOGJA.COM, MELAWI - Dinas Pendidikan Melawi menghentikan operasional SMP Negeri 3 Pinoh Selatan yang terletak di Desa Bina Jaya. Alasan penutupan tersebut karena jumlah siswanya terlalu sedikit sehingga tidak sesuai dengan biaya operasional.

Kepala Dinas Pendidikan Melawi, Paulus mengungkapkan, SMPN 3 Pinoh Selatan dibangun tahun 2008 kemudian dioperasionalkan tahun 2009, kondisi bangunan sekolah tersebut cukup megah dan masih baru. Namun karena tidak ada siswa, pihaknya mengambil kebijakan menghentikan operasional.

Paulus mengungkapkan, pihaknya sudah menurunkan tim ke lapangan untuk berbicara dengan masyarakat. Dari hasil penelusuran didapati bahwa jumlah siswa hanya mencapai 7 orang, maka masyarakat juga perlu memikirkan nasib sekolah tersebut kedepan.

"Jika dipaksakan tetap berjalan kami khawatir tidak mampu dengan biaya operasional. Kalau hanya ditangani satu guru kan tidak mungkin, sementara mata pelajaran ada 11, mana mungkin satu guru mampu mengajar 11 mata pelajaran. Kalaupun gurunya diperbanyak itu namanya mubazir sebab hanya mengajar 7 murid," katanya, Jumat (30/8/2013).

Paulus mengungkapkan, idealnya untuk unit sekolah baru (USB) setiap ruang kelas diisi 32 siswa, namun di SMPN 3 Pinoh Selatan hanya diisi 7 saja. Kondisi ini tentu saja tidak sebanding dengan biaya operasional yang dikeluarkan terutama untuk mengajar guru honorer.

"Kalau dana BOS itu berapa, sementara biaya operasional yang harus dikeluarkan itu kan sama dengan sekolah besar lainnya. Dari mana dia bisa membayar tenaga honor, jadi tidak balance, antara uang yang masuk dari pemerintah dengan yang dikeluarkan," katanya.

Paulus mengatakan penghentian tersebut bersifat sementara, sehingga tidak menutup kemungkinan kedepannya akan dioperasikan kembali, jika kondisinya sudah jauh lebih baik.

"Secara kelembagaan masih, namun untuk operasional tidak mampu karena jumlahnya tidak sampai 10 siswa, jadi untuk sementara sekolah tersebut tidak beroperasi. Sementara 7 siswa yang belajar di sana dipindahkan, saya sudah sampaikan kepada sekolah di Nanga Pinoh untuk wajib menerimanya meskipun sudah tidak ada penerimaan," katanya.

Akibat kasus itu pula, tahun ini Pemerintah Kabupaten Melawi tidak akan membangun Unit Sekolah Baru (USB) untuk tingkat SMP. Sebab di Kabupaten Melawi sudah tercatat sebanyak 114 SMP negeri dan swasta.

"Bukan kita tidak mau membangun sekolah lagi, sebab sekolah yang ada juga sudah banyak, buat apa membangun banyak-banyak sekolah kalau proses belajar mengajarnya tidak berjalan dengan baik. Selain itu kebutuhan guru kita juga masih kurang,” katanya.

Paulus khawatir, akibat kondisi ini tingkat kepercayaan masyarakat untuk menyekolahkan anaknya menjadi turun. Sehingga prestasi pendidikan di Melawi semakin menurun, maka pertimbangan pemerintah tidak membangun USB.

"Ketika saya diminta oleh Dirjen pendidikan, saya percaya diri menjelaskan, bahwa Melawi tidak mengusulkan pembangunan SMP, mungkin bagi mereka aneh, karena banyak daerah yang mengajukan sementara di Melawi tidak. Alasan saya jelas karena mempertimbangkan kondisi saja," jelasnya. (ali)
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved