Perak Masih Jadi Primadona

Penggemar perhiasan pun mulai mengoleksi ragam perhiasan dari perak yang semakin variatif dan inovatif terutama dari segi desain.

Tayang:
Penulis: tea | Editor: Rina Eviana Dewi

Laporan Reporter Tribun Jogja, Theresia Andayani

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Perhiasan emas masih diminati ketimbang perak atau batu-batuan. Meski begitu perhiasan perak semakin percaya diri menandingi emas. Penggemar perhiasan pun mulai mengoleksi ragam perhiasan dari perak yang semakin variatif dan inovatif terutama dari segi desain.

Bahkan, perak sudah menjadi tren dikalangan penggemar fashion accessories. Selain bahannya lebih murah dari emas, perak lebih bersifat ke modern style dibanding perhiasan berbahan emas.

“Dunia fesyen perak kini makin terangkat dan berkelas. Dengan desain yang unik, menjadikan perak semakin digemari, bahkan perak menjadi perhiasan yang bisa dikenakan di saat yang berbeda,” ucap Ujang Simbara (34), Pemilik Ansor Silver saat berbincang dengan Tribun Jogja, Rabu (20/2/2013).

Menurut Ujang, tren saat ini semakin banyak pecinta perhiasan menyukai perhiasan perak yang cenderung berukuran besar, kaya warna, dan menonjol. Desain perhiasan perak inilah yang masih menjadi tren tahun ini. Perak tak melulu model klasik namun bisa dimodifikasi dengan konsep modern. Seperti padu padan perak dengan batu alam semakin digemari.

Mengenai desain, lanjut Ujang, perhiasan yang dibuatnya tidak kalah dengan desain perhiasan perak dari luar negeri. Sebab dia juga banyak menerima pesanan dari Amerika dan Jepang. Menurutnya, desain dalam negeri tidak kalah dengan desain perhiasan luar negeri. “Desain yang kami tawarkan tidak monoton, setiap bulan kami selalu memiliki produk terbaru yang dipasarkan,” ucap pria lulusan STIE YKPN ini.

Ujang mengatakan jenis kerajinan perak terbagi menjadi dua yakni gilapan, berupa lembaran perak dan juga trap berupa benang-benang perak atau filigri. Bahan baku utama pembuatannya adalah perak dan cooper.  Ujang menjelaskan dalam membuat perak bahan baku yang digunakan adalah campuran 100% perak dan 7,5 % tembaga yang dilebur menjadi satu dengan dipanaskan.

“Cairan itu dituangkan pada belahan bambu atau batu putih untuk mendapatkan batangan perak yang berkadar 92,5 %. Perak yang masih murni dengan kadar 100% tidak bisa dibuat barang kerajinan karena terlalu lunak, jadi kurang kuat untuk pembuatan barang-barang kerajinan,” ucapnya.

Perak yang sudah berbentuk batangan tadi, lanjutnya siap untuk dicetak atau dipahat sesuai selera. Hasil dari peleburan perak yang telah berwujud batangan dipalu atau dipukul-pukul menjadi lembaran atau lempengan perak. Lalu di desain atau dibentuk sesuai dengan barang kerajinan yang akan dibuat, semisal teko, nampang, piring, sendok dan sebagainya. “Kami menyediakan produk aneka perhiasan dan aksesoris perak, miniatur perak, dekorasi dan hiasan dinding serta aneka kerajinan perak lainnya,” ucapnya. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved