Asyiknya Menyusuri Goa Kalisuci

Petualangan dimulai saat ban besar yang disediakan mulai masuk ke dalam air

Penulis: Agung Ismiyanto | Editor: Joko Widiyarso
Laporan Reporter Tribun Jogja, Agung Ismiyanto

TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL - Wisata minat khusus ternyata terus mendapatkan perhatian masyarakat. Hal tersebut terbukti dengan reservasi wisatawan ke Gunungkidul selama liburan panjang ini.

Sebuah wahana yang menarik dikunjungi adalah Susur Goa (cave tubing) Kalisuci di Dusun Jetis, Desa Pacarejo, Kecamatan Semanu.

Pantauan Tribun Jogja, wisatawan mulai banyak yang mengunjungi cave tubing Kalisuci. Mereka berasal dari luar daerah, terlbihat dari plat-plat mobil yang mereka kendarai. Mereka sangat antusias segera menjelajahi keindahan perut bumi yang disajikan melalui penyusuran gua.

Menyusuri lika-liku di Goa Kalisuci memang sungguh menyenangkan. Suasana alam yang masih alami dan eksotis mengundang keinginan berpetualang. Keindahan karst Gunungkidul bukan memang mitos. Beberapa gua karst dapat dinikmati dengan cara berpetualang dan menjelajah pahatan-pahatan alam yang indah. Kita bisa menikmati alam indah di perut Bumi Handayani dengan susur gua (cave tubing).

Goa Kalisuci ini memiliki tantangan tersendiri dan mengharuskan setiap penyusur memiliki tenaga ekstra. Hal itu karena untuk mencapai Goa Kalisuci, wisatawan harus berjalan di jalur treking sepanjang 70 meter. Jalur tersebut sudah dicor beton, namun ada beberapa bagian yang tetap dijaga keasliannya.

Nantinya setiap wisatawan akan menyusuri goa sepanjang 600 meter itu dengan dipandu pemandu terlatih. Syaratnya, wisatawan harus benar-benar memiliki riwayat kesehatan cukup baik. “Para pengunjung juga diharapkan tidak mengidap asma atau jantung,” ujar salah seorang pemandu Asep.

Petualangan dimulai saat ban besar yang disediakan mulai masuk ke dalam air. Pemandu kemudian mulai menggerakkan ban agar tidak tertahan batu dan wisatawan juga diajak duduk dengan santai. Ban bergerak seirama aliran air dan membawa petualangan dalam goa berair tenang dan bersuhu sejuk.

Di dalam goa ini, Tribun Jogja menikmati aliran sungai yang berkelak-kelok. Air berwarna biru kehijauan terlihat kontras dengan warna coklat tanah, tebing karst, dan dipadu jerit kelelawar. Sementara pemandu terus menerangkan setiap bagian goa. Menurut pemandu, Goa Kalisuci sering dianggap masyarakat sebagai Wot Siti (jembatan tanah).

Dengan tarif Rp 65 ribu, wisatawan diajak menyusuri Goa Kalisuci, Luweng Glatik dan sebagai finis, wisatawan hanya sampai di depan Luweng Gelung. Wisatawan diajak menyaksikan stalaktit dan stalakmit yang menjadi ornamen penghias goa. Selain itu, di relung itu, sinar matahari menghilang dan berganti dengan suasana remang bahkan gelap, satu-satunya pencahayaan hanya berasal dari headlamp. Stalaktit yang terlihat di atap goa terus meneteskan air, beberapa di antaranya merupakan batu kristal.

Pada beberapa bagian, wisatawan juga bisa bermain-main untuk sekadar berfoto dan berenang. Para pemandu pun sudah terbiasa dengan tingkah wisatawan yang berlama-lama dengan kegembiraan. Biasanya, tempat bermain yang sangat asyik berada di dekat Watu Gajah, sebuah batu besar berwarna putih kecoklatan. Di dekatnya terdapat air berwarna hijau kebiruan berkedalaman sekitar 1,5 hingga 1,8 meter.

Salah seorang wisatawan, Mahlina Ahmad (31) sangat takjub dengan keindahan Kalisuci. Warga Banjarmasin, Kalimantan Selatan ini mengaku belum pernah menjumpai tempat wisata yang seperti Kalisuci.

“Saya belum pernah merasakan petualangan yang menakjubkan seperti ini,” katanya. Mahlina mengaku tergiur untuk mencoba sensasi cave tubing, lantaran di beberapa daerah tidak ada wisata semacam itu. Sehingga pada saat liburan panjang, ia dan suaminya, Ahmad menyempatkan diri untuk cave tubing.

Anggota Pokdarwis Kalisuci, Asep menjelaskan pihaknya mematok minimal penyusur terdiri dari lima orang dan diberikan fasilitas ban, helm pengaman dan juga decker. Selain itu selama dua jam berada dalam goa karst, pengunjung juga mendapatkan air minum dan makanan ringan.

“Namun kami menutup cave tubing jika musim hujan datang, karena intensitas air meningkat drastis,” tandasnya. (*)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved