Kajian Bappenas Belum Rampung, Revitalisasi Malioboro Tertunda

Bappenas sampai saat ini belum menyelesaikan kajian revitalisasi Malioboro.

Kajian Bappenas Belum Rampung, Revitalisasi Malioboro Tertunda
TRIBUNJOGJA.COM/BRAMSTO ADHY
Jalan Malioboro
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas) sampai saat ini belum menyelesaikan kajian revitalisasi Malioboro. Sebelumnya, Bappenas mengajukan dua opsi penataan parkir, yakni parkir bawah tanah atau parkir atas tanah. Penataan tersebut untuk orientasi Malioboro ke depan yang rencananya dijadikan jalur pedestrian.


Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) DIY, Tavip Agus Rayanto berencana akan menanyakan kepada Bappenas mengenai kajian tersebut. Padahal sejak awal tahun ini rencana kajian Malioboro yang menggunakan APBN sudah disampaikan.


"Kajian Bappenas belum diserahkan kepada kami. Karena itu kerjasamanya Bappenas dengan konsultan Jepang untuk mengkaji Malioboro," tandas Tavip, Selasa (6/11/2012).


Mengenai rencana Malioboro akan dijadilak sebagai jalur pedestrian, Tavip menyebut bahwa Gubernur menyarankan tidak murni pedestrian. Pertimbangannya, lantaran adanya Gedung Agung sebagai tempat tinggal Presiden Indonesia ketika berkunjung ke Yogyakarta.


"Jadi pedestrian yang dimaksud adanya pengecualian bagi kendaraan tertentu. Tapi realisasinya nanti seperti apa, masih menunggu hasil kajian dari Bappenas," urainya.


Menjadikan Malioboro menjadi jalur pejalan kaki bukanlah hal mustahil. Optimisme ini diutarakan pakar transportasi UGM Yogyakarta, Prof Sigit Priyannto PhD. Menurutnya, akan banyak keuntungan yang diperoleh dengan menjadikan Malioboro sebagai jalur pedestrian.


Dengan berjalan kaki ketika berkunjung ke Malioboro akan menambah lama orang tinggal atau berwisata. Sehingga diharapkan dapat berkorelasi dengan peningkatan omset para pelaku bisnis di landmark Yogyakarta ini.


Namun, yang perlu diperhatikan tentu saja lahan parkir serta pengalihan arus lalu lintas. Semisal membangun kantung parkir dan mengoptimalkan ruas jalan di sebelah barat-timur Malioboro.


"Hanya saja, mungkin tidak sepenuhnya pedestrian. Tapi transportasi publik seperti Trans Jogja atau kendaraan non motor tetap diperbolehkan. Saya pikir akan membuat Malioboro semakin nyaman dikunjungi. Kami juga sudah mengusulkan wacana pedistrian di Malioboro sejak 30 tahun lalu," papar Prof Sigit.(*)

Penulis: hdy
Editor: evn
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved