Kereta Prameks Anjlok

Korban Kebanyakan Wanita karena KKW di Depan

kelemahan armada prameks berupa KRD dengan coupler permanen adalah, bila terjadi PLH, rangkaian sulit dilepaskan dan berpotensi 'mbabit

Penulis: Rento Ari Nugroho | Editor: Joko Widiyarso
Laporan Reporter Tribun Jogja, Rento Ari Nugroho

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Terjadinya kecelakaan anjlok dan tergulingnya KA Prameks di Kalasan tidak luput dari pengamatan kelompok pecinta kereta api. Tidak seberapa lama setelah kejadian, beberapa anggota pecinta kereta api Yogyakarta (Railfans Yogya) menuju ke lokasi kejadian.

Sebagai seorang railfans, pengetahuan mengenai kereta api memang melebihi pengetahuan rata-rata masyarakat awam. Karena itu, pendapat mereka yang turun ke lapangan patut disimak.

Benny Pudyastanto (24), seorang railfans yang datang ke lokasi mengungkapkan, peristiwa kecelakaan Prameks tersebut menurut pengamatannya, dapat disimpulkan beberapa hal.

"Pengamatan pribadi saya sebagai Railfans, Peristiwa Luarbiasa Hebat (PLH) Prambanan Ekspres di PJL 328 Kalasan, peristiwa terjadi pada jam pulang kerja. Asumsinya, penumpang relatif banyak. Kemudian, kereta melaju normal, yaitu 90km/jam pada lintasan Brambanan-Maguwo (BBN-MGW), yang memang mengijinkan taspat untuk itu," jelasnya ketika dihubungi melalui sambungan telepon, Selasa (23/10/2012).

Benny melanjutkan, kelemahan armada prameks berupa KRD dengan coupler permanen adalah, bila terjadi PLH, rangkaian sulit dilepaskan dan berpotensi 'mbabit.' Selain itu, kereta paling depan adalah KKW (Kereta Khusus Wanita), dengan demikian dipastikan mayoritas korban adalah perempuan dan anak-anak.

"Lintasan YK-Solo adalah lintas utama yang padat. PLH ini dipastikan sangat mengganggu perjalanan KA. Mari berdoa untuk korban, semoga lekas membaik. Semoga masyarakat tidak trauma menggunakan jasa transportasi kereta api," tutup Benny. (*)
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved