Penembakan di Solo

Bayu Sering Ikut Aksi Sweeping

Bibi B (16), terduga teroris yang ditangkap di Karanganyar, berinisial SP (47), sudah merasakan ada perubahan sikap pada diri keponakannya 2008 lalu

Penulis: Ikrob Didik Irawan | Editor: tea
Laporan Reporter Tribun Jogja, Ade Rizal dan Ikrob Didik Irawan

TRIBUNJOGJA.COM, SOLO -  TERDUGA teroris Bayu Setyono yang diringkus Densus 88 Antiteror ternyata baru berusi 16 tahun dan belakangan ini sering ikut sweeping bersama sejumlah laskar di Kota Surakarta (Solo). Sikap Bayu belakangan berubah menjadi tertutup dan hanya mau bergaul dengan komunitasnya.
Menurut SP (47), bibi Bayu, ia sudah merasakan ada perubahan sikap pada diri keponakannya sejak ia bekerja pada seorang tokoh di kampungnya. "Mungkin karena pergaulan di tempat kerjanya atau bagaimana, saya nggak tahu. Tapi setelah itu sikapnya berubah," ujarnya ketika ditemui Minggu (2/9/2012).
Menurut SP, sejak saat itu sikapnya menjadi tak acuh dan tidak mau bergaul dengan pemuda di sekitar kampungnya. "Sebelumnya masih mau kalau diajak ngobrol. Setelah itu dia nggak mau bergaul dengan pemuda lain. Jadi sering ikut kalau laskar sweeping," katanya.
Semenjak sering ikut dalam kegiatan sweeping itulah, secara pribadi tidak lagi menyukai keponakannya. "Orangnya jadi tertutup, nggak mau kenal orang lain kecuali komunitasnya. Selain itu nggak percaya sama orang lain," tambahnya.
Namun sebenarnya, keponakannya tergolong pekerja yang rajin, baik saat membantu ibunya berjualan maupun saat bekerja kepada orang lain. Dikatakan,  keponakannya sempat bekerja sebagai penjual susu segar dan kebab. Sebelumnya sempat bekerja di tempat penjahitan baju.
"Dia itu sebenarnya wong bodho (orang bodoh), tapi rajin. Dia juga cepat bosan karena ganti-ganti pekerjaan terus," sambungnya. Keponakannya juga sempat membantu ibunya  berjualan kue.

Meski berusia sangat muda, tubuh keponakannya nampak lebih tua dari umurnya karena perawakannya tinggi besar. Bayu pernah mengenyam pendidikan di SD Muhammadiyah 13 Solo,  namun tidak naik kelas hingga empat kali saat masih kelas 2 SD.
"Dia akhirnya keluar dan nggak mau sekolah karena diejek teman-temannya. Badannya sudah gede tapi masih saja kelas dua," katanya.
Mengenai berapa sebenarnya usia Bayu, ayah tirinya, JP (44), mengungkapkan sebenanrnya baru 16 tahun, bukan 24 tahun seperti diberitakan sebelumnya.  "Dia itu sebenarnya kelahiran 1996, jadi masih 16 tahun, masih anak kecil," katanya.

Diakui, dirinya terpaksa memalsukan umur Bayu untuk mencatatkan pernikahan anaknya dengan Retno, warga Karanganyar. "Waktu nikah, secara agama memang sudah sah. Tapi secara hukum negara kan belum boleh. Makanya saya tuakan umurnya," akunya.
Diungkapkan, Bayu pernah menjadi anggota kelompok laskar tertentu di Solo. Namun, setelah pemimpin laskar itu tewas ditembak Densus 88 Antiteror di Sukoharjo, Jawa Tengah, Mei 2011 lalu, Bayu kehilangan figur.
JP mengakui, puteranya memang seorang pribadi yang tertutup. Anaknya tidak banyak bicara dan tidak banyak bergaul dengan warga sekitar. "Sama saya saja dia tidak banyak bercerita. Tapi saya yakin dia tidak terlibat," katanya.

JAT Membantah
Sementara, Jama'ah Ansharut Tauhid (JAT), organisasi yang dipimpin Ustad Abu Bakar Ba'asyir,  membantah tiga terduga teroris yang digerebek Densus 88 Antiteror, Jumat (31/8/2012) lalu, merupakan anggotanya.
"Kami tegaskan bahwa tak satu pun dari tiga terduga teroris itu anggota JAT," kata Sonhadi, Juru Bicara JAT, Minggu (2/9/2012).
Menurut Sonhadi, pihaknya sudah melakukan pengecekan data anggota JAT, dan hasilnya tak ada yang bernama Bayu Setiyono, Muchsin ataupun Farhan.  Oleh karena itu, tuduhan yang menyebut para terduga teroris itu anggota JAT, sebagai sebuah fitnah. "Mereka mungkin berasal dari kelompok lain di Solo, bukan dari JAT. Tuduhan itu (anggota JAT) fitnah," katanya lagi.
Sonhadi menganggap tuduhan seperti itu adalah lagu lama. Menurutnya, tuduhan serupa sudah berkali-kali dilontarkan pada JAT dalam kasus terorisme sebelumnya. Namun tuduhan-tuduhan itu tak pernah terbukti.
Apalagi, Densus saat melakukan operasi penangkapan selalu diakhiri penembakan yang menewaskan targetnya. "Lah kalau targetnya mati, bagaimana bisa melakukan penyelidikan. Kan nggak mungkin menanyai mayat," ujarnya.
Informasi yang beredar, Farhan adalah warga Dusun Brengosan, Kelurahan Purwosari, Solo. Namun saat Tribun mencoba mengorek informasi dari para perangkat dusun, tak satupun yang mengenal Farhan.  Heri Sutoyo, Ketua RT 14 mengaku kaget saat membaca sebuah koran lokal Solo yang menyebutkan Farhan adalah warga Brengosan.
"Saya langsung mencari-cari data, tapi tak menemukan warga yang namanya Farhan," katanya. Brengosan  terdiri dari empat RW yakni RW 10, 12, 13, dan 14 dengan jumlah KK mencapai 150-an. 
Menurut Heri, dusunnya memang sempat dikait-kaitkan dengan teroris. Sebelumnya, sejumlah warga Brengosan memang pernah ditangkapi Densus, antara lain Air Setiawan warga RW 13 dan Eko Joko Sarjono Peang, warga RW 11. "Makanya saya kaget, apa mungkin si Farhan ini teman  Air atau Joko," katanya.
Menurut Heri, Air dan Joko memiliki kelompok di dusun setempat. Namun setelah mereka dieksukusi Densus 88, kelompok tersebut tak lagi aktif dan kegiatan mereka sebatas pengajian, bukan tindakan kriminal.
"Semuanya (mantan anggota kelompok Air) baik-baik kok orangnya. Warga malah kaget ketika mereka terlibat teroris," katanya.
Jika saja ada foto-foto para terduga teroris yang telah ditangkap Densus, Heri akan bisa mengenali. Ia hafal betul para pemuda di tempat tinggalnya. Namun dari sekian banyak media yang dibacanya, tak satupun yang memuat foto para terduga teroris. (dik/ade)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved