Mangkubumi Naik Gajah, Kirab Joko Tingkir Dipadati Ribuan Warga

Kirab Joko Tingkir, puncak pekan Syawalan di Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ) dipadati ribuan warga yang ingin berebut ketupat.

Penulis: Ikrob Didik Irawan | Editor: tea
Laporan Reporter Tribun Jogja, Ikrob Didik

TRIBUNJOGJA.COM, SOLO – Kirab Joko Tingkir, puncak pekan Syawalan di Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ) dipadati ribuan warga yang ingin berebut ketupat. Pada kirab itu, GPH Mangkubumi, putra Raja Keraton Kasunanan Surakarta PB XIII didaulat berperan sebagai Joko Tingkir yang menaiki gajah.

Sejak pukul 10.00, ribuan warga sudah mulai memadati kebun bintang yang terletak di tepi sungai Bengawan Solo tersebut. Kirab di mulai dari kawasan Bonbin. Mangkubumi yang mengenakan kostum ala pendekar jaman dulu tiba-tiba dihampir gajah jantan Jurug bernama Jati. Ningrat berpostur gempal itu lantas naik ke punggung gajah, memimpin rombongan kirab.

“Kemarin saya sudah latihan naik gajah yang tingginya hampir 3 meter ini. Sempat takut, sebab gajahnya besar sekali ternyata,” kata Mangkubumi, Minggu (26/8/2012). Didampingi oleh sang pawang, gajah mulai berjalan memimpin rombongan yang terdiri dari prajurit keraton, gunungan ketupat, pawang gajah, model Solo Batik Carnival (SBC), dan sejumlah komunitas lain.

Gajah berjalan menuju kantor pengelola Jurug dan kembali lagi ke timur danau yang menjadi lokasi prosesi acara. Di tempat itu, ribuan warga sudah berkumpul bersiap berebut ketupat. “Tak ada persiapan khusus, sebab saya tak diminta menari. Hanya latihan menunggang gajah tadi,” katanya Mangkubumi yang mengaku bangga bisa memerankan Joko Tingkir ini.

Di timur danau itu, dipentaskan tari yang menceritakan perjalanan Joko Tingkir hingga menjadi penguasa Kerajaan Pajang. Usai pementasan tari, ketupat didoakan oleh seorang ulama keraton. Tak lama, ribuan warga langsung berdesak-desak berebut ketupat yang dianggap memiliki tuah tersebut. Baik dewasa, anak-anak, hingga kakek-kakek saling dorong untuk bisa mendekat ke gunungan. Beruntung aksi desak-desakn itu tak sampai menimbulkan korban jiwa.

"Saya dapat empat buah ketupat. Dua ketupat akan saya gantung di pintu rumah. Sisanya akan simpan dilemari. Ketupat ini bisa membawa keberuntungan," kata Maliki, warga Kampung Sewu. Beberapa warga ada yang langsung memakan ketupat dan jeruk yang diperoleh. Mereka percaya makanan itu bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit dan mendatangkan berkah karena telah didoakan.

Direktur Utama TSTJ, Lilik Kristianto menambahkan, ada sekitar lima ribu ketupat pada kirab Joko Tingkir tahu ini. Jumlah itu masih sama dengan tahun sebelumnya. "Tapi pada kirab tahun ini, tak ada atraksi Joko Tingkir naik rakit ke tengah danau. Sebab danau agak kering akibat kemarau. Selain itu, cerita tahun ini merupakan cerita lanjutan tahun lalu yang tak ada adegan larung di danau," kata Lilik.

Pada hari puncak pekan Syawalan kemarin, pihaknya menargetkan jumlah pengunjung sebanyak 5 ribu orang. Selain kirab, pihak panitia juga menyediakan hiburan musik dangdut. "Kalau melihat sekilas, target pengunjung sepertinya tercapai. Tiket masuk tetap Rp 10 ribu perorang, tak ada kenaikan. Sementara untuk parkir Rp 3 ribu bagi motor," kata Lilik Lagi. (dik)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved