Komunitas Sufi

Masuk Komunitas Sufi untuk Bertarekat

Yang paling berkesan baginya setelah aktif di tarekat ini adalah kenyataan bahwa menjadi rendah hati

Penulis: rap |
Laporan Reporter Tribun Jogja, Riezky Andhika Pradana

TRIBUNJOGJA.COM
, YOGYA
- Bagi Joko, mengikuti sebuah tarekat adalah jalan untuk menjawab pertanyaan siapa kita, dari mana, dan mau kemana.

“Ketika pertanyaan ini terjawab, maka perjalanan untuk berislam dengan benar menjadi lebih ringan,” ujarnya.

Pria kelahiran Surabaya, 29 Maret 1978 ini bergabung dengan tarekat Haqqani sejak 2006 lalu. Saat isterinya sedang mengandung anak pertamanya, timbul kesadaran didiri pria bernama lengkap Joko Sulistio ini bahwa setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban tentang apa yang dipimpinnya.

“Seorang laki-laki adalah pemimpin bagi isteri dan anak-anaknya, lalu dengan apa saya bisa memimpin istri dan anak-anak saya? Sebetulnya hal ini merupakan kristalisasi saja dari rasa haus saya akan hakikat hidup,” ujar lulusan S2 UII yang kini berprofesi menjadi dosen.

Menurutnya pertanyaan terbesar di alam raya ini adalah siapa kita. Hal tersebut mengejewantah pada 2006 lalu dengan ketakutan akan pertanggungjawabannya kepada Allah atas istri dan anak saya.

“Alhamdulillah Allah SWT memberi pertolongan dan keberuntungan bagi saya untuk dapat bertemu dengan tarekat ini,” ucapnya tenang.

Pria yang gemar bersepeda ini mengatakan bahwa persepsi masyarakat umum tentang tarekat adalah lekat dengan hal yang bersifat mistis dan penuh klenik. Hal ini yang menjadi tantangannya dalam bertarekat. Yang paling berkesan baginya setelah aktif di tarekat ini adalah kenyataan bahwa menjadi rendah hati adalah kunci bagi kesuksesan dalam menjalankan Islam.

Ia berujar bahwa Islam hadir dalam dirinya dengan format yang "pas" melalui tarekat ini, dan anggapan bahwa pelaku tarekat akan meninggalkan syariat, menurutnya merupakan kesalahpahaman terbesar.

“Tarekat tidak akan ada tanpa syariat, Guru kami menyampaikan bahwa ada tiga hal dalam syariat yaitu ilmu, amal dan ikhlas. Keikhlasan dalam berilmu serta beramal itulah yang menjadi "bidang garap" tarekat,” jelasnya. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved