Suddenly Sunday Rilis “Everything Under the Sun”

Suddenly Sunday dibentuk dari ketidaksengajaan para personilnya yang kebetulan memiliki kemampuan bermain alat musik.

Tayang:
Penulis: rap |
SETELAH cukup lama tidak mengeluarkan karya dalam bentuk rekaman, ditambah dengan adanya pergantian personil, Suddenly Sunday Album akhirnya merilis album perdana mereka bertajuk ‘Everything Under the Sun’.

 Karya ini merupakan bentuk rekaman dan dokumentasi yang mengangkat beberapa fenomena kontradiktif, mulai bentuk rasa, imajinasi, dan kisah fiksi tentang manusia dalam proses kehidupan di bumi. Fenomena kontradiksi yang mereka maksudkan adalah tentang perasaan-perasaan manusia, dan kadang imajinasi dari bentuk realitas yang diharapkan yang tidak diinginkan untuk menjadi sebuah realita.

Bagi band yang yang kini beranggotakan Adi Wijaya (gitar), Dewi Sarmudyahsari (drum), Dini Yunitasari (vokal), Helmy Febrian (gitar) dan Woro Agustin (bass), album ini adalah langkah untuk menyapa para pendengar musik yang sudah lama mengenal Suddenly Sunday, dan sekaligus ajang perkenalan bagi para pendengar baru.

Untuk persebarannya, ‘Everything Under the Sun’ dikemas dalam dua bentuk, yang pertama berbentuk CD fisik dengan kemasan eksklusif, dan terbatas hanya 200 buah. Lalu yang kedua berbentuk non fisik, berupa kode unduhan yang hanya bisa didapat disetiap pembelian merchandise Suddenly Sunday. Untuk distribusi, Suddenly Sunday bekerjasama dengan Gigsplay Records (Bandung).

Sebelumnya, ketika proses penggarapan full album berisi 10 lagu ini, tepatnya pertengahan 2010 lalu, Suddenly Sunday sempat merilis dua single ‘Club Addicted’ dan ‘Hollow Night’. Kedua single ini merupakan sapaan awal mereka bersamaan dengan bergabungnya Dini sebagai vokalis. Suddenly Sunday pun telah merilis video klip lagu ‘Club Addicted’ yang berkolaborasi dengan RekamOtak. Video tersebut bisa dinikmati di situs Youtube.

Suddenly Sunday dibentuk dari ketidaksengajaan para personilnya yang kebetulan memiliki kemampuan bermain alat musik. Band ini sudah eksis sejak November 2007 lalu, dan sebelumnya sempat merilis mini album ‘Music Box’ yang diedarkan secara cuma-cuma.

Dalam perjalanannya, Suddenly Sunday sempat masuk nominasi 30 besar LA LIGHT Regional Yogyakarta (2008). Lagu dalam EP mereka berjudul ‘Sadness and Hopefully Happy Ending’ masuk dalam album kompilasi ‘Rise n Shine Compilation’ di Yogyakarta. Beberapa panggung musik telah mereka sambangi, bahkan hingga ke luar Yogyakarta.

Karya-karya mereka juga sempat menghasilkan kolaborasi dan menghasilkan art work, antara lain dari Stay True My Friend Design (Singapura), Afid Chepop (Jogja), TheSompret (Jakarta), dan Fitterhappier (Surabaya).

Kembali lagi soal album perdana mereka ‘Everything Under the Sun’, nuansa rock alternatif era 90an dengan dominasi personel perempuan cukup terasa di hampir keseluruhan lagu mereka. Mendengarkan album ini seolah menyantap ramuan Elastica, The Breeders, hingga The Cranberries, bahkan sesekali terdengar sedikit sentuhan L7, band punk yang sangat berpengaruh di jagad musik alternatif era 90-an.

Sebagai lagu pembuka ‘Mighty Sunday’ berceritakan tentang segala aktivitas yang dilakukan banyak orang di hari Minggu. Dengan kekuatan ini, Suddenly Sunday seolah ingin ‘meracuni’ mereka yang mendengarkan agar selalu merasakan ‘Minggu’ pada enam hari lainnya.

Lagu lainnya ‘Hibernation’, menurut mereka diinspirasi dari film kartun fiksi di televisi, yang kemudian terkonstruksi secara realita di bumi. Isu pemanasan global yang dampaknya mengakibatkan mencairnya gunung-gunung es di kutub utara maupun selatan menjadi tema yang diangkat pada lagu penuh energi berdurasi tiga menit ini.

“Setidaknya dari lagu ini bisa memperingatkan kami untuk peduli dengan lingkungan bumi ini melalui perilaku keseharian kami,” ujar bassist Woro Agustin. (Riezky Andhika Pradana)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved