publik area
Di Malioboro, Trotoar Jadi Tidak Nyaman Buat Pejalan Kaki
Yogyakarta sebagai kota pendidikan dan budaya tidak terpisahkan dari kebutuhan akan ruang publik
Penulis: Yoseph Hary W | Editor: tea
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Yogyakarta sebagai kota pendidikan dan budaya tidak terpisahkan dari kebutuhan akan ruang publik, tak terkecuali trotoar bagi pejalan. Selain menyempitnya trotoar akibat pesatnya pertumbuhan ekonomi rakyat dan pembangunan secara keseluruhan, kebanyakan ruang publik yang ada di Kota Yogyakarta belum pro difabel, bahkan kurang nyaman untuk masyarakat pada umumnya.
Hal itulah yang kemudian menginspirasi diskusi para pemerhati ruang publik termasuk kawasan Malioboro, di RM Numani, Kamis (12/7/2012). Cakrawala Institute, sebagai penggerak diskusi tersebut berharap pada 5 - 10 tahun ke depan Malioboro dan Yogyakarta keseluruhan kian nyaman dan tertata di sela-sela pesatnya pembangunan.
Fasilitator diskusi, Aulia Resa mengatakan, kenyataannya fasilitas publik seperti trotoar belum dikelola secara bersama. Kondisinya tidak layak untuk pejalan, apalagi untuk kaum difabel. Dengan fakta itu, sama artinya keberadaan trotoar belum berfungsi maksimal. "Di Malioboro, trotoar yang dulu untuk pejalan kini penuh kendaraan parkir. Orang jadi tidak nyaman. Budaya berjalan kaki pun menurun," ungkapnya kemarin.
Pengambil kebijakan, menurutnya, perlu memperhatikan itu. Para pelaku di lapangan, pedagang, juru parkir dan lainnya perlu diajak komunikasi untuk mendapat strategi yang benar demi kenyamanan bersama. Pasalnya, jika sudah terlanjur menempati, akan sangat tidak baik untuk sekadar menggusurnya. "Untuk mengembalikan pada fungsinya, perlu sistem yang terintegrasi. Misal, ajak juru parkir dan backing-banckingnya untuk duduk bersama," lanjutnya. (*)
Pembicara dalam diskusi itu, Wani Darmawan mengungkapkan, masyarakat terbiasa dengan perilaku kecil yang seharusnya tidak dilakukan. Misalnya, kebiasaan membuang sampah sembarangan. Hal semacam itu juga terjadi dalam pemanfaatan ruang publik yang seharusnya dibuat nyaman sesuai fungsinya.
Cakrawala Institute dalam pengantar diskusi itu menyebutkan, situasi berkembang sesuai pertumbuhan ekonomi dan bidang lainnya. Ruang publik pun menjadi kurang nyaman. Salah satunya bahwa trotoar menjadi sempit. Hal itu perlu kajian agar kelak pejalan mendapat haknya.(*)