Tradisi Ruwah Rosul, Perantau Pulang Tuk Silahturahmi

Puluhan warga Desa Mendak, Kecamatan Delanggu terlihat berbondong-bondong berjalan di sebuah jalan

Penulis: oda | Editor: tea
Tradisi Ruwah Rosul, Perantau Pulang Tuk Silahturahmi
foto : obed doni ardiyanto
Warga Desa Mendak, Kecamatan Delanggu, Klaten sedang melakukan tradisi Ruwah Rosul. Mereka bersama-sama menikmati makanan yang dibawa masing-masing keluarga di pelataran pemakaman desa.
Laporan Reporter Tribun Jogja, Obed Doni Ardiyanto

TRIBUNJOGJA.COM, KLATEN - Puluhan warga Desa Mendak, Kecamatan Delanggu terlihat berbondong-bondong berjalan di sebuah jalan yang hanya bisa dilalui sebuah mobil. Setiap kelompok membawa sebuah lincak (tempat duduk) dari bambu dengan cara dipikul dengan bambu yang diikatkan ke lincak tersebut.

Pada lincak tersebut diletakkan berbagai macam makan, baik makanan berat maupun jajan pasar. Beberapa orang juga membawa tenong (wadah dari bambu untuk membawa makanan yang dijual). Makanan yang menjadi tradisi untuk dibawa ialah nasi gurih, ingkung (ayam utuh), pisang raja, dan jajanan pasar.

Sesampai di sebuah pemakaman di desa setempat, mereka berhenti dan meletakkan lincak dan tenong yang mereka bawa di pelataran Pemakaman Desa Mendak. Setelah didoakan makanannya oleh sesepuh desa, kemudian diperebutkan warga. Tradisi ini bernama Ruwah Rosul yang selalu dilakukan warga desa setempat menjelang bulan puasa.

"Ini biasanya dilakukan tanggal 15 Ruwah (penanggalan jawa). Siang hari dilakukan kedurian seperti ini, dan malam harinya ada pertunjukan wayang kulit. Ini merupakan tradisi yang sudah turun temurun yang dilakukan warga sini," tutur salah satu sesepuh desa setempat, Slamet (65), di Klaten, Kamis (5/7) sore.

Selain untuk melakukan tradisi menjelang bulan puasa, kegiatan itu juga digunakan sebagai waktu untuk bersilahrurahmi para warga desa tersebut. Seluruh warga yang tua atau muda, baik yang masih berdomisili di desa itu maupun yang telah merantau, menyempatkan diri untuk mengikuti tradisi tersebut.

"Selain kirim doa bagi leluhur, tradisi ini juga digunakan untuk silahturahmi para warga, khususnya bagi keluarga dan warga yang berada ke luar kota. Mereka sengaja datang untuk ikut Ruwah Rosul yang dilakukan setahun sekali ini," jelas Slamet.

Sebagai contohnya, Sumartini (42) yang datang jauh-jauh dari Rawamangun, Jakarta untuk hadis dalam acara itu. Dia bersama keluarganya datang sehari sebelum tradisi itu digelar, dan sengaja mengambil cuti empat hari dari tempat kerjanya. Dia mengaku selalu memberikan waktu untuk berpartisipasi dalam tradisi itu setiap tahunnya bersama keluarganya.

"Dari Jakarta. Tiap tahunnya saya pulang bersama keluarga. Dulu saya yang selalu menantikan untuk datang ke tradisi Ruwahan ini. Sekarang, anak-anak saya yang selalu tidak sabar untuk datang ikut acara ini. Seru saat rebutan katanya," kata ibu tiga anak itu.

Menurut wanita yang akrab dipanggil Nit di Jakarta itu, datang dalam Ruwah Rosul menjadi sarana baginya tuk bersilahturahmi. "Saya dan keluarga bisa ketemu dengan keluarga besar dan tetangga. Saya lebih suka silahturahmi sekarang, soalnya saat mendekati lebaran, tiketnya mahal," imbuhnya.

Setelah berebut makanan, warga yang berkumpul di pemakaman tersebut tidak langsung pulang. Namun, mereka menyantam makanan yang telah diperebutkan dan dibawa di tempat itu bersama-sama. Beberapa makanan jajan pasar dan buah-buahan dibawa pulang, hingga tidak ada yang tersisa. (*)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved