Resensi Buku

Balance, Curhatan Melly Goeslaw Soal Industri Musik

Tren menjual ring back tone (RBT) melalui lagu yang diciptakan secara instan

Penulis: Sigit Widya | Editor: Iwan Al Khasni
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Buku ini bercerita tentang keluh kesah penulis terhadap kondisi industri musik saat ini. Diuraikan secara terang-terangan oleh Melly, betapa kini geliat bisnis musik di Indonesia sudah menyentuh titik mengenaskan. Tren menjual ring back tone (RBT) melalui lagu yang diciptakan secara instan, sulit untuk dikontrol.

Belum cukup, kompetisi bernyanyi lewat voting (pemilihan) dan sebagainya, kian merajalela. Kreativitas pun seakan menjadi sebuah hal nan fiktif, meski sejatinya tak sedikit yang masih bermakna dalam. Karenanya, Melly tak segan menyebut buku keduanya ini sebagai sebuah referensi sosiologi musik Indonesia masa kini.

Ya, buku berjudul Balance ini merupakan karya kedua Melly. Pada 2004, istri musisi Anto Hoed ini pernah meluncurkan kumpulan cerpen berjudul Arrrrrrgh, yang tanpa dinyana cukup sukses di pasaran. Bahkan, salah satu cerpen di dalam buku tersebut ditransformasi menjadi film oleh sutradara kawakan Rudi Soedjarwo.
 
Kini, melalui Balance, Melly mencoba menjabarkan situasi industri musik di Indonesia yang sebenarnya ke dalam tujuh bab. Bab-bab tersebut adalah Euforia feat Iri, The Blue Print to Build A Great Building, Perfect Soul Mates; A Singer and a Composer, Seasonal Loyalty, Born to be a Star, "Psychology Versus Knowledge, dan Choosen Path.

Membaca buku ini, tampak bahwa Melly benar-benar terinspirasi oleh batinnya yang bergejolak. Telah bertahun-tahun berkecimpung di industri musik, baru kini ia bersedia membuka uneg-uneg dan rasa keprihatinannya terhadap jagad musik kontemporer. Buku ini sendiri, proses pengerjaannya telah tuntas sejak akhir 2010 silam.

"Industri musik tanah air ternyata tak selamanya menyenangkan, bahkan lebih terasa mengenaskan," demikian tulis Melly di salah satu bagian dalam buku ini.

Belum cukup, ia juga menceritakan euforia terhadap jenis musik tertentu yang sedang populer, sehingga menjadikan banyak pihak memilih untuk mengekor demi mencicipi popularitas. Fakta tersebut, tulis Melly, tentu sangat mematikan kreativitas dan mengebiri munculnya hal-hal baru yang lebih menarik. Idealisme bermusik pun menjadi kehilangan tempat.

Musik selayaknya mengedepankan proses rancang bangun dan arasemen. Hubungan antara penyanyi dan komposer harus dilandasi perjodohan hati. Namun, yang mengemuka saat ini, industri musik berpatokan pada satu: laku atau tidak laku. Termasuk keberadaan penggemar, saat ini lebih disasar melalui jejaring sosial. Akibatnya, kesetiaan mereka cenderung bersifat musiman.

Dari apa yang telah dicatat oleh Melly ini, mungkin memang bisa disebut sebagai sosiologi musik Industri, bukan wacana sosiologi sebagai hasil penelitian akademik. Ia melakukan pengamatan. Sebagai seseorang yang juga musisi, Melly bersedia memikirkan dan mampu menuliskan semuanya lewat bahasa dan sudut pandang pribadinya yang unik. (*)
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved