Satu Abad HB IX
Bermuslihat Untuk Rakyat
Pembangunan Selokan Mataram merupakan ide Sri Sultan HB IX untuk mencegah romusha warganya ke luar pulau
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Dua tahun setelah naik tahta di Keraton Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono IX dihadapkan pada kenyataan sejarah, balatentara Nippon datang menderas dari utara. 6 Maret 1942, ribuan serdadu Jepang berbaris dengan kepala tegak melalui Jalan Malioboro. Mereka berpangkalan di bangunan besar, yang kini jadi Hotel Inna Garuda.
Sultan paham, Jepang datang tidak untuk memerdekakan. Ia menangkap gelagat keadaan justru akan jauh lebih kejam. Benar saja, pemerintahan militer Jepang segera menerapkan kebijakan romusha, sistem kerja paksa untuk menopang pendudukan militernya di Asia Tenggara. Para laki-laki dewasa berumur 16-25 tahun atau lebih, dan tidak memiliki pekerjaan, wajib ikut kerja paksa. Tak hanya di Jawa, mereka dikirim untuk membangun infrastruktur militer Jepang di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, bahkan hingga front peperangan di Burma.
Di sinilah kecerdasan dan pilihan taktik Sri Sultan HB IX teruji. Ketika Jepang meminta romusha dari Yogyakarta dan sekitarnya, ia menyodorkan proposal. Sri Sultan HB IX mengajukan gagasan pembuatan kanal irigasi untuk menggenjot produksi pertanian di wilayah utara dan timur Yogyakarta. Sri Sultan meyakinkan Jepang proyek tersebut membutuhkan banyak tenaga. Alasan tersebut nampak kuat di hadapan Jepang. Tenaga kerjanya diambil dari ribuan warga Yogyakarta dan sekitarnya.
Sistem kerjanya dikelola Jepang, berikut pendanaan proyek kanal, pintu air, bendungan, tanggul, talang air, dan bangunan pengontrolnya. Sebagian kewenangan pengaturan pekerja diserahkan ke pemerintahan kooti (kasultanan). Kanal itu dimulai dari hulu di Bendungan Karang Talun di wilayah Magelang. Sumber airnya berasal dari aliran Kali Progo.
"Proyek Selokan Mataram dipimpin Insinyur Yosiro. Pembangunan Selokan Mataram bisa dikatakan cepat karena hanya selama satu tahun," kata saksi hidup Pairan Martoyo (86).
Salah seorang putra Sri Sultan HB IX, GBPH Prabukusumo menyebut ayahandanya memilih berjuang dalam diam. Ia tidak pernah mengungkapkan apa tujuan dari gagasannya yang sepintas menyetujui sistem kerja paksa di tanahnya sendiri itu.
"Setahu saya Sultan HB IX punya gagasan membuat Selokan Mataram untuk menyelamatkan rakyat Yogya, supaya tidak dibawa kerja paksa atau romusha Jepang. Beliau cerita kepada saya, apa yang dilakukan itu kewajiban," kata Gusti Prabu. (www.tribunjogja.com)