Teh Goreng Turgo Khas Lereng Merapi

Dikemas dengan Plastik Ukuran 30 Gram

Untuk pengemasan, teh goreng dikemas menggunakan kemasan plastik bening berukuran 30 gram

Tayang:
Penulis: Mona Kriesdinar | Editor: ufi
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN- Untuk pengemasan, teh goreng dikemas menggunakan kemasan plastik bening berukuran 30 gram. Caranya masih manual yakni menyegel kemasan plastik menggunakan api dari lilin.

Menurut Tukirah, hampir semua warga yang berada di dataran tinggi Turgo memiliki pohon teh di rumahnya. Di sini memang tidak ada kebun khusus teh, hanya dikembangkan secara individu lantaran suhu udara yang mendukung. 

Hal yang sama diutarakan Hartini. Di rumahnya ia hanya memiliki 20 batang pohon teh. Sekali panen, ia sanggup menghasilkan satu kilogram daun teh kering. "Ya lumayan untuk menyambung hidup," ujarnya.

Tah hasil olahan warga Turgo ini, memiliki rasa agak sepet namun kental aroma khas tehnya. Saat diseduh pertama kali, teh akan mengeluarkan warna bening agak kekuningan. Tapi setelah diseduh untuk yang kedua kalinya, warna teh akan berubah menjadi merah.

"Teh ini sudah diambil sarinya, sehingga rasanya sepet tapi segar. Kalau buatan pabrik biasanya belum diambil, sehingga rasanya sepet pahit," jelas Tukirah.

Untuk satu kemasan teh, warga biasa menjual dengan harga Rp 5 ribu. Teh ini biasa disajikan untuk para wisatawan yang berkunjung ke kawasan wisata ini. Belum lengkap hanya dengan menyajikan teh, warga pun menyajikan makanan pendamping semisal jadah tempe dan gorengan.

Diakuinya, selama ini, pemasaran teh masih berkisar di tingkat lokal. Lantaran jumlah produksinya pun masih terbatas. Serta belum ada perkebunan khusus teh, terlebih banyak area perkebunan hancur akibat erupsi merapi. Ide pembuatan teh ini pun baru dimulai pada tahun 2009 yang lalu. Berawal dari keinginan untuk menciptakan produk yang unik dan bercita rasa. (*)


Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved