Teroris Beraksi di Solo

Agil Terhenyak Melihat Bercak Darah

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siradj, mengunjungi lokasi GBIS Kepunton Solo

Tayang:
Editor: Ganux
SOLO, TRIBUN - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siradj, mengunjungi lokasi GBIS Kepunton Solo yang menjadi target serengan bom bunuh diri, Minggu (25/9) lalu. Orang nomor satu dikalangan Nahdiyin itu masuk ke dalam gereja dan berkeliling melihat lokasi ledakan terjadi. Usai menyaksikan langsung tempat pelaku meledakkan diri, Said  mengutuk aksi tersebut dan meminta agar UU Terorisme dibuat lebih menggigit.

Mengenakan pakaian batik coklat, Said tiba di Dusun Kepunton, Kelurahan Tegalharjo, Kecamatan Jebres, lokasi Gereja sekitar pukul 08.30, Selasa (27/9). Ia disambut oleh pengurus gereja dan Ketua Badan Antar Gereja Kristen Solo (BAGKS) Pendeta Anthon Karundeng. Pria kelahiran Cirebon Jawa Barat itupun  bergegas masuk ke dalam gereja dan meilihat-lihat.

Pandangannya langsung tertuju pada pintu masuk bagian depan dimana masih terdapat banyak bercak darah yang sudah mengering. Ia terhenyak.

Di tempat itulah, pelaku bom meledakkan dirinya dan melukai puluhan jemaat saat usai melakukan kebaktian. Bercak darah berasal dari pelaku dan jemaat gereja yang menjadi korban. Saat berada di lokasi itu, Said sempat berhenti beberapa saat dan meminta penjelasan dari pengurus gereja. "Saya sangat terkejut saat mendengar aksi (bom) ini. Ini adalah tindakan teroris. Pemerintah harus membuat UU Terorisme lebih menggigit agar kejadian seperti ini bisa dicegah sebelum terjadi," kata Said dengan nada suara lantang.

Menggigit yang ia maksud adalah, melalui UU itu polisi diberi kewenangan untuk menangkap dan meminta keterangan terhadap orang-orang yang dicurigai akan melalukan aksi teror. Namun penangkapan harus sudah disertai dengan bukti-bukti yang kuat dan tak melanggar HAM saat melakukan interogasi. "Jika pada kasus pembunuhan, peristiwa dulu terjadi baru dilakukan penangkapan pelaku. Kalau terorisme tak bisa seperti itu, pelaku harus ditangkap sebelum melakukan aksinya," katanya.

Di tempat yang sama, Sekretaris Eksekutif Bidang Diakonia Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) Jeirry Sumampow sepakat jika aparat kepolisian memantau kegiatan ceramah semua agama. Sebab ia yakin kelompok-kelompok ekstrimis yang melakukan teror tersebut ada di semua agama. "Polisi harus mengontrol dan memantau kegiatan ceramah semua agama sebagai langkah pencegahan aksi teror," katanya.
Namun ia tak sepekat jika polisi ikut melakukan penjagaan di gereja-gereja saat umat Kristen sedang melakukan ibadah. Pria berkacamata ini lebih sepakat pengawasan dilakukan oleh pihak internal gereja.

Selasa pagi, Jalan Arif Rahman Hakim depan GBIS Kepunton mulai dibuka untuk umum setelah sekitar dua hari ditutup. Semua kendaraan roda dua dan roda tiga bebas melintas. Polisi yang berjaga pun tak sebanyak hari-hari sebelumnya. Namun menjelang siang, jalan kembali ditutup karena tim labfor gabungan dari Polres Solo-Polda Jateng-Mabes Polri kembali melakukan oleh TKP. (dik)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved