Menginap di Rumah Oma Serasa di Rumah Sendiri

Menginap di Rumah Oma Serasa di Rumah Sendiri

Editor: tea
zoom-inlihat foto Menginap di Rumah Oma Serasa di Rumah Sendiri
TRIBUNJOGJA.COM/HENDRA K
Petugas sedang membersihkan halaman depan Rumah Oma, Selasa (8/3/2011).
Laporan Reporter Tribun Jogja, Theresia Andayani

YOGYA, TRIBUN -  Begitu melangkahkan kaki ke halaman Guest House Rumah Oma sudah terasa suasana berbeda. Tak ada kesan kalau hunian ini adalah sebuah guest house. Hunian ini seperti layaknya rumah sendiri.

Bangunan dua lantai di lahan seluas 1267 meter ini awalnya memang rumah tinggal. Namun kini sudah disulap menjadi hunian bagi para tamu yang ingin menginap di Yogya. Bangunan bergaya naturalis ini dikombinasi dengan gaya mediterania. Itu bisa dilihat dari bebatuan alam pada tiang penyangga dan dinding rumah pada bagian depan.

Belum lagi ditambah dengan suasana alam yang terasa sangat kental, di depan rumah terdapat pohon-pohon perindang jambu, alpukat, mangga, dan juga pohon kelapa. Juga aneka tanaman hias jenis anthurium dan pakis menjadi penyejuk mata bagi tamu yang datang.  Di teras di letakan 3 set kursi kayu, dengan di beri payung.

"Biasanya saat pagi dan sore menjadi tempat favorit bagi tamu yang menginap, mereka betah duduk berlama-lama disitu," kata Marta Wahyu Saronto kepada Tribun Jogja, Selasa (8/3/2011).

Marta mengatakan Rumah Oma berdiri 8 bulan yang lalu. Tanpa sengaja akhirnya Guest House ini tercipta karena dua tahun belakangan, rumahnya menjadi sepi. Selama 8 tahun, keluarga Wahyu Saronto menempati kediaman yang terletak di Jalan Melati Wetan 13, Baciro, Gondokusuman, Yogyakarta.

Tentu saja banyak kenangan yang sudah terjalin di rumah itu. Salah satunya di ruang makan yang kini sudah menjadi bangunan kamar.

"Saya paling suka memasakan anak-anak ayam goreng tulang, yang disantap dengan sambal terasi, kalau saya sudah masak itu mereka semua berkumpul di meja makan, rindu rasanya," ujar ibu empat orang anak ini.

Anak-anak Marta kini  sudah beranjak dewasa lalu menikah. Dan mereka lebih memilih untuk membeli rumah sendiri. Kemudian pasangan suami istri Wahyu Saronto ini kemudian pindah ke rumah di Kawasan Gejayan. Maka tempat tinggalnya yang lama itu kemudian dialihkan menjadi Guest House.

"Penataannya tidak ada yang berubah. Hanya di depan ditambah ruang resepsionis, dan di belakang di tambah 3 kamar," ujar Marta, sapaannya.

Guest house ini memiliki 9 unit kamar ukuran deluxe dan superior dengan luas antara 6 meter X 8 meter hingga 8 meter X 10 meter. Setiap kamar ada fasilitas kamar mandi dalam yang dilengkapi shower, dan bathub. Satu buah bed besar, lemari, tempat rias, dan juga televisi 29 inch. Biaya per malam untuk menginap di guest house ini mulai Rp450 ribu per malam, sudah termasuk breakfast.

"Di rumah Oma ini saya ingin agar setiap tamu yang datang itu bisa homy, seperti di rumah sendiri," ujar Marta.

Khusus bangunan Marta memang punya Arsitek khusus yang sudah menjadi Arsitek di keluarganya selama 10 tahun, yang bernama Ir Freddy asal Jakarta. Sementara untuk interior design dia menyewa jasa salah seorang desainer interior dari sebuah perusahaan, tanpa mau menyebut nama.

Interior ruangan memang banyak di dominasi dengan batuan alam dan kayu. Dua elemen itu menurutnya jika dipadukan menjadi serasi dan harmoni.

"Batu itu kan dari pegunungan dan kayu dari hutan. Kalau dipadukan tentu sangat apik," kata dia.

Memang tidak ada bentuk bangunan yang khas. Hanya saja, aura  rumah ini sangat sejuk karena banyak ruang terbuka. Di tiap kamar pun jendela berukuran besar, maksudnya agar jalan masuk udara bisa lebih lebar. Soal interior, Marta banyak memakai interior dari kayu, ukiran-ukiran yang dipahat, dan juga lukisan di tiap kamar bergambar wajah Oma dan Opa, sebagai simbol dari Rumah Oma. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved