Relawan SAR Merapi Dibui
(EKSKLUSIF) Saya Akan Cari Izin Pisau Lipat Itu
Mungkin kalau tidak seperti ini, tidak merasakan sedekat ini dengan Allah.
Editor:
Setya Krisna Sumargo
TRIBUNJOGJA.COM/ADE RIZAL AVIANTO
Arief Johar CP saat menjalani sidang ke-2 di PN Sleman, Senin (7/2/2011).
Reporter Tribun Jogja, Putri Fitria
Arief Johar Cahyadi Permana (24), adalah relawan Merapi binaan SAR DIY yang sudah ditahan sejak 23 November terkait dakwaan kasus senjata tajam berupa barang bukti pisau lipat multifungsi. Arief kini mendekam di sel tahanan Lapas Cebongan Sleman, dan sudah dua kali menjalani sidang di Pengadilan Negeri Sleman. Arief terancam masa tahanan maksimal 10 tahun penjara menurut UU Darurat tahun 1951. Berikut wawancara Tribun Jogja dengan Arief Johar di ruang tahanan PN Sleman sebelum sidang kasusnya, Senin (7/2/2011). Petikannya;
Tribun Jogja (TJ): Bagaimana perasaannya menghadapi sidang eksepsi hari ini?
Arief Johar (AJ): Deg-degan.. Tapi juga tidak berharap terlalu banyak di sidang sekarang. Denger-denger sih jarang pada sidang tanggapan eksepsi bisa diterima.
TJ: Bagaimana tanggapan anda melihat banyak teman-teman dan pihak-pihak yang mendukung kasus Anda?
AJ : Senang banget. Alhamdulillah kalau dari pihak Rektorat UII juga mau membantu. Terimakasih sekali. Kepada teman-teman juga. Saya senang banget banyak yang dukung saya.
TJ : Pernah terlibat kasus hukum sebelumnya?
AJ : Belum, belum pernah.. Ini pengalaman pertama dan semoga jadi pengalaman terakhir juga.
TJ : Pisau lipat yang jadi barang bukti pernah digunakan untuk tindak kejahatan?
AJ : Tidak pernah. Pisau lipat itu hanya saya gunakan untuk alat survival atau sarana taktis evakuasi. Misalnya untuk memotong tali, kardus, ban yang digunakan untuk bakar bangkai sapi. Pisau lipat itu sekaligus senter dan korek juga, jadi kegunaannya macam-macam.
TJ : Sewaktu proses pemeriksaan kenapa mau tanda tangan tanpa dampingan pengacara?
AJ : Waktu itu saya nurut aja. Dibacakan isinya, lalu saya tanda tangan. Saya gak ngerti prosesnya bisa sampai sejauh ini. Waktu malam penangkapan saya juga tidak menghubungi teman relawan lain untuk minta bantuan, karena sudah sangat larut malam. Saya gak enak merepotkan. Karena kan juga teman-teman butuh istirahat. Hape saya juga ditahan, jadi baru besok sorenya saya bisa menghubungi keluarga dan teman-teman.
TJ : Apa yang Anda rasakan terhadap pihak kepolisian?
AJ : Ya kecewa.. tapi sudah sampai sejauh ini, mudah-mudahan kita bisa menang di sidang ini. Biar bisa jadi pelajaran juga buat semuanya. Pihak kepolisian supaya gak asal tangkap dan masyarakat supaya hati-hati dalam membawa barang yang bisa dikategorikan senjata tajam.
TJ : Ada keluhan selama di Lapas?
AJ : Dulu sehari-dua hari ada pukulan-pukulan di badan oleh sesama tahanan, tapi ya biasa kalau di penjara. Sekarang malah sudah dekat dengan para tahanan. Tapi kalau sama ibu saya bilang baik-baik saja, karena saya gak mau ibu sedih. Soalnya awal-awal saya ditahan ibu nangis terus..
TJ : Kenapa mau jadi relawan Merapi?
AJ : Pengen aja.. Dari dulu saya senang ikut kegiatan sosial. Saya juga suka ikut kegiatan pencinta alam, sejak SMA.
TJ : Kapok jadi relawan?
AJ : Enggak..gak.. kalau perlu nanti saya cari surat izin kepemilikan pisau lipat itu..(tertawa kecil)
TJ : Apa yang dirindukan sampai sekarang?
AJ : Keluarga saya, ibu-bapak, adik, kakak.. suasana luar juga, di tahanan cuma bisa lihat berita Merapi di televisi dan koran. Kadang suka membayangkan apa yang bisa saya lakukan kalau saya di luar sana. Suka iri sama teman-teman lain yang masih bisa banyak membantu.
TJ : Kalau bebas nanti yang pertama mau dilakuin apa?
AJ : Pulang, ngerasain tidur di kasur lagi.. yang pasti pulang ke rumah orang tua, mungkin kalau perkuliahan belum mulai saya menghabiskan waktu sama keluarga dulu.
TJ : Bagaimana dengan kuliah Anda?
AJ : Karena gak ikut ujian jadi kuliah satu semester hangus. Sebenarnya ini yang paling saya sesalkan. uang kuliah satu semester jadi sia-sia, kasian ibu bapak saya. Dan kalau kasus ini berlarut-larut saya terpaksa cuti untuk satu semester ke depan. Semoga saja tidak, jadi saya tidak perlu cuti.
TJ : Hikmah apa yang bisa diambil dari peristiwa ini?
AJ : Ya pelajaran buat saya.. semakin mengingatkan pada Yang di Atas. Mungkin kalau tidak seperti ini, tidak merasakan sedekat ini dengan Allah. Walaupun dari dulu saya rajin ibadah, tapi selama di tahanan saya jadi mengaji setiap hari.
TJ : Ada pesan yang ingin disampaikan?
AJ : Minta doanya aja biar kasus saya cepat selesai. Bisa bebas, supaya teman-teman lain tidak kena imbas. Kalau saya divonis bersalah, kasian yang lain juga. Nanti bisa-bisa makin banyak yang ditangkap karena pisau lipat, padahal itu alat operasional.(*)