Harga Jual Seekor Kuda Gusti Yudha Rp 100 Juta
Tahun 1978 Gusti Yudha membeli kuda sandel tua. Kini, kuda-kuda yang dimilikinya berharga mahal, salah satunya berharga Rp 35 juta.
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA – Gusti Bendoro Pangeran Haryo (GBPH) Yudhaningrat (Gusti Yudha) pertama kali membeli kuda pada 1978, saat menjadi mahasiswa tingkat pertama. Kala itu Gusti Yudha membeli kuda jenis sandel yang relatif tua. Kini, kuda-kuda yang dimiliki berharga mahal, salah satunya jika dijual bisa mencapai Rp 100 juta.
Adapun kuda sandel tua, yang dibeli tahun 1978 tersebut, kala itu termasuk istimewa, yaitu masih berani diajak berlomba di pacuan kuda. Gusti Yudha, yang menjadi joki kuda balap, selama kurun waktu 1974-1979 sering menjurai berbagai balapan kuda.
“Karena badan saya tidak fit lagi dan tidak proporsional, saya meninggalkan dunia joki tahun 1980. Tapi saya masih aktif di Pordasi,” ujar ketua Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (Pordasi) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), kepada Tribun Jogja, Jumat (29/1/2011), di rumahnya, di Yogyakarta.
Setelah tak lagi menjadi joki, Gusti Yudha mulai berkonsentrasi sebagai pemilik kuda sekaligus pelatih. Hal itulah yantg, antara lain, menjadikan dirinya dipercaya sebagai pengurus Pordasii sejak 1980-an silam.
Sekarang Gusti Yudha memiliki satu kuda poni, satu kuda Australia yang dulunya kepunyaan Sri Sultan (bantuan Presiden) ditempatkan di Museum Kereta Rotowijayan dan di Parangkusumo, tiga kuda lokal, dan satu ekor kuda peranakan jenis G3.
“Kalau kuda lokaltidak diikutkan dalam kejuaraan, hanya dicari tuahnya saja. Sedangkan kuda peranakan sering diikutkan, khususnya kuda Australia,” ungkapnya.
Dari semua kudanya, ada satu yang menjadi kesayangan Gusti Yudha. Bayu Kusumo, namanya. Kuda berwarna dhawuk (merah keputih-putihan) ini dinaiki saat meninggalnya Ngarsa Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan saat Jumenengan Sri Sultan Hamengku Buwono X.
“Kudanya memang bandel, tapi sangat gesit. Saya paling senang memakaikan kaos kaki putih di semua kakinya. Tapi sayang kudanya sudah mati pada tahun 1990,” kenangnya.
Menurut Gusti Yudha, saat ini sudah ada pengganti Bayu Kusumo. Dua ekor kuda di kandang belakang rumahnya, dan dua ekor lagi di kandang di Museum Kereta Rotowijayan menjadi kesayangannya. Kudanya yang jantan diberi nama Satrio Pinayungan, dibeli di Jawa Timur seharga harga Rp 15 juta, beberapa waktu lalu. Adapun kuda termahal miliknya, senilai Rp35 juta, diberi nama Suryondadari.
“Dulu saya beli masih anakan waktu tahun 2008. Sekarang sudah hampir empat tahun, kalau dijual nilainya bisa mencapai Rp100 juta,” ucapnya