Pembagian Daging Kurban

Saya Lupa Kapan Terakhir Makan Daging

“Saya makan daging kalau ada kenduri saja,” kata Kusumaryadi (77).

Editor: Sulistiono
Saya Lupa Kapan Terakhir Makan Daging
FOTO TRIBUNJOGJA/MONA KRIESDINAR
Kusumaryadi (77), warga penerima bantuan daging kurban di Stadion Mandala Krida Yogyakarta, hasil kerjasama pemerintah kota setempat dengan Prof Dr Mahmud Es’ad Cosan Foundation Australia, melalui Yayasan Server Indonesia,Sabtu (8/1/2011).
Laporan : Mona Kriesdinar

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA – “Saya makan daging kalau ada kenduri saja,” kata Kusumaryadi (77), warga penerima bantuan daging kurban, hasil kerjasama Pemkot Yogyakarta dengan Prof Dr Mahmud Es’ad Cosan Foundation Australia melalui Yayasan Server Indonesia,Sabtu (8/1/2011).

Kusumaryadi diantar tetangganya ke tempat pembagian daging kurban di Stadion Mandala Krida. Ia gembira bisa membawa pulang daging sapi 3 Kg. “Saya bersyukur sekali,” tuturnya.

Kusumaryadi adalah seorang dari lima penerima bantuan daging kurban langsung dari Wakil Wali Kota Yogyakarta, Haryadi Suyuti. Ia mewakili penerima daging kurban se-Kota Yogyakarta untuk pembagian secara simbolis dari Pemerintah Kota Yogyakarta kepada warga masyarakat yang berhak.

“Selama ini saya jarang sekali makan daging. Saya sudah lupa kapan terakhir kali makan daging,” ujarnya. Ia tinggal bersama anaknya, Bambang. Setiap hari dirinya masak bergantian dengan Bambang yang masih membujang meskipun usianya sudah 50 tahun. Setiap hari ia makan oseng–oseng dan sayuran seadanya. Sehari ia hanya menyantap seperempat kilogram beras untuk dua kali makan, yaitu pagi dan sore. “Sehari paling hanya dua ribu rupiah untuk makan,” katannya.

Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, warga Demangan, Gondokusuman Yogyakarta ini kerap dipanggil para tetangganya untuk bersih–bersih atau mengecat rumah. Tapi itu pun tidak setiap hari. Satu bulan hanya dua atau tiga kali saja. “Biasanya kalau dapat order bekerja saya dikasih Rp 30 Ribu,” katanya.

Kusumaryadi berencana akan langsung memasak daging sapi di rumahnya. Namun ia bingung daging sebanyak itu akan habis berapa lama, dan sampai kapan dagingnya layak untuk dimakan. Maklum, ia tidak memiliki lemari es.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved